GUNDIH, PERHUTANI (20/05/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Juworo mematangkan rencana penanaman bibit buah-buahan di kawasan hutan garapan Desa Sobo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Program perhutanan sosial melalui skema agroforestri tersebut dirancang untuk memitigasi risiko erosi sekaligus meningkatkan pendapatan petani lokal.

Rencana tersebut dibahas dalam Rapat Anggota Tahunan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Perkumpulan Petani Mandiri (PPM) Desa Sobo yang digelar pada Rabu (20/05). Pertemuan itu dihadiri perwakilan Pemerintah Desa Sobo, Dinas Pertanian Kecamatan Geyer, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), serta pengurus LMDH.

Mewakili Administratur KPH Gundih, Kepala BKPH Juworo, Ipnu Mustofa, menyampaikan bahwa manajemen mendukung penuh inisiatif LMDH PPM untuk menanam tanaman produktif seperti mangga, sawo, dan alpukat di lahan perhutanan sosial.

“Langkah ini strategis karena memadukan fungsi ekologi dan ekonomi. Tanaman keras seperti alpukat dan sawo memiliki akar kuat yang vital untuk mengikat tanah sehingga dapat mengantisipasi banjir dan erosi di wilayah Geyer,” kata Ipnu Mustofa.

Ia menjelaskan bahwa Kecamatan Geyer secara topografi memiliki beberapa titik rawan longsor dan genangan saat curah hujan tinggi. Oleh sebab itu, penataan kawasan hulu dengan tanaman produktif berakar dalam diharapkan menjadi solusi berbasis alam yang berkelanjutan.

Sekretaris Desa Sobo, Jarwanto, mengapresiasi kebijakan Perhutani yang melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan lahan garapan. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi ruang komunikasi berkala untuk menyelesaikan berbagai tantangan kelestarian hutan sekaligus menekan konflik tenurial.

Sementara itu, Ketua LMDH PPM, Sumeri, memastikan para petani yang tergabung dalam perkumpulan akan mematuhi seluruh regulasi dan batasan yang ditetapkan Perhutani dalam mengelola lahan negara tersebut.

“Kami berkomitmen menjaga kemitraan ini tetap berjalan sesuai aturan yang disepakati bersama,” ujar Sumeri.

Ke depan, program tersebut diharapkan tidak hanya menjaga fungsi tutupan lahan di wilayah BKPH Juworo, tetapi juga memberikan alternatif sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa sekitar hutan melalui hasil panen buah tanpa merusak tegakan utama. (Kom-PHT/Gdh/Dwi)

Editor: Tri

Copyright © 2026