SURAKARTA, PERHUTANI (31/05/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta melalui jajaran Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara menggelar kegiatan pembinaan bagi para penyadap getah pinus di Tempat Penimbunan Getah (TPG) Kramen, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tambak, pada Kamis (29/05). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Perhutani dalam meningkatkan produktivitas hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya getah pinus yang menjadi salah satu komoditas unggulan perusahaan.
Selain memberikan arahan mengenai teknik penyadapan sesuai standar operasional, kegiatan ini juga menjadi sarana komunikasi antara manajemen Perhutani dan para penyadap untuk menyerap aspirasi serta mengevaluasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan.
Administratur KPH Surakarta melalui Wakil Administratur KPH Surakarta Pirmansyah menyampaikan bahwa keberhasilan produksi getah pinus sangat bergantung pada kualitas pekerjaan para penyadap di lapangan.
“Penyadap merupakan mitra strategis Perhutani dalam menjaga keberlangsungan produksi getah pinus. Melalui pembinaan ini, kami mengingatkan pentingnya penerapan teknik sadap yang benar, menjaga kesehatan tegakan pinus, serta meningkatkan kualitas getah agar memiliki nilai jual yang lebih baik. Kami juga berharap hubungan kemitraan yang selama ini terjalin dapat terus diperkuat,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan penyadap, Kamto, menyampaikan apresiasinya atas perhatian dan pembinaan yang diberikan Perhutani kepada para penyadap. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan tambahan wawasan mengenai teknik penyadapan yang lebih efektif dan aman bagi pohon.
“Kami merasa terbantu dengan adanya pembinaan seperti ini karena dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kami di lapangan. Harapannya, produksi getah tetap stabil, kualitas semakin baik, dan kesejahteraan para penyadap juga ikut meningkat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pembinaan ini, Perhutani berharap produktivitas dan kualitas getah pinus di wilayah BKPH Lawu Utara dapat terus meningkat tanpa mengabaikan aspek kelestarian tegakan. Ke depan, sinergi antara Perhutani dan para penyadap diharapkan semakin kuat sehingga pengelolaan HHBK dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan sekaligus mendukung pelestarian kawasan hutan sebagai aset penting bagi generasi mendatang. (Kom-PHT/Ska/Mar)
Editor: Tri
Copyright © 2026