KEDU UTARA, PERHUTANI (09/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wonosobo menerima kunjungan koordinasi dari Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) VII wilayah Kalikajar bersama mahasiswa Program Studi Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), di Kantor BKPH Wonosobo, Selasa (09/06).
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka koordinasi dan persiapan kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan di jalur pendakian Gunung Sumbing via Gajah Mungkur yang berada dalam wilayah kelola Perhutani. Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi yang konstruktif dengan fokus pada aspek teknis penelitian vegetasi serta inventarisasi flora yang terdapat di kawasan hutan pegunungan tersebut.
Dalam pertemuan itu dibahas sejumlah hal penting, antara lain persiapan administrasi dan teknis pelaksanaan penelitian, metode analisis vegetasi yang akan diterapkan di sepanjang jalur pendakian mulai dari basecamp hingga batas vegetasi, serta pembahasan mengenai keberadaan jenis-jenis flora langka dan tumbuhan yang berstatus dilindungi di kawasan hutan Gunung Sumbing.
Selain itu, peserta diskusi juga bertukar informasi mengenai kondisi ekosistem kawasan, karakteristik vegetasi pegunungan, serta pentingnya pengumpulan data ilmiah sebagai dasar pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya hutan di kawasan Gunung Sumbing.
Administratur KPH Kedu Utara melalui Kepala BKPH Wonosobo, Naufal Rafif, menyampaikan apresiasinya atas inisiatif penelitian yang dilakukan kalangan akademisi dengan dukungan instansi kehutanan.
“Perhutani pada prinsipnya mendukung kegiatan penelitian yang memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kehutanan dan konservasi sumber daya alam. Jalur pendakian Gunung Sumbing via Gajah Mungkur memiliki potensi keanekaragaman hayati yang menarik untuk dikaji secara ilmiah. Perhutani berharap kegiatan ini dapat berjalan dengan baik serta menghasilkan data yang bermanfaat bagi pengelolaan kawasan hutan secara berkelanjutan,” ungkap Naufal.
Menurutnya, sinergi antara Perhutani, akademisi, dan instansi kehutanan menjadi bagian penting dalam memperkuat basis data dan informasi mengenai kondisi sumber daya hutan di lapangan. Dengan adanya penelitian yang terencana dan terukur, berbagai potensi flora maupun ekosistem kawasan dapat terdokumentasikan dengan lebih baik.
Sementara itu, Penyuluh Kehutanan CDK VII wilayah Kalikajar, Purni, menyampaikan bahwa koordinasi dengan Perhutani merupakan langkah awal yang penting sebelum kegiatan penelitian dilaksanakan di lapangan.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan Perhutani BKPH Wonosobo yang telah memberikan ruang diskusi dan berbagai informasi terkait kondisi kawasan. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai komposisi vegetasi serta keberadaan flora langka dan dilindungi yang terdapat di sepanjang jalur pendakian Gunung Sumbing via Gajah Mungkur,” jelas Purni.
Ia menambahkan bahwa hasil penelitian nantinya diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi berbagai pihak dalam mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan.
Kegiatan koordinasi ditutup dengan penyamaan persepsi terkait tahapan pelaksanaan penelitian, penentuan lokasi pengamatan, serta komitmen bersama untuk menjaga kelestarian kawasan hutan selama kegiatan berlangsung. Melalui kolaborasi antara Perhutani, penyuluh kehutanan, dan akademisi, diharapkan penelitian tersebut mampu menghasilkan data yang akurat serta memberikan manfaat nyata bagi pengembangan ilmu kehutanan dan konservasi sumber daya alam di kawasan Gunung Sumbing. (Kom-PHT/Kdu/Nurul)
Editor: Tri
Copyright © 2026