BANYUMAS TIMUR, PERHUTANI (13/02/2026) | Pagi itu, ruang rapat kantor Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur dipenuhi suasana serius namun hangat. Belasan peserta duduk memperhatikan layar presentasi, sementara petugas pemadam kebakaran berdiri di depan ruangan memberikan paparan teori tentang penanganan kebakaran. Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian pelatihan penggunaan alat pelindung diri (APD) dan alat pemadam api ringan (APAR) pada Jumat (13/02) untuk memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan kerja.

Peserta tidak hanya berasal dari karyawan internal. Selain perwakilan manajemen, pelatihan tersebut dihadiri Komandan Regu Polisi Hutan Mobile serta Perwira Pembina Jagawana KPH Banyumas Timur.

Wakil Administratur KPH Banyumas Timur Maman menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun budaya keselamatan dan kesehatan kerja. Menurutnya, kesiapan menghadapi keadaan darurat bukan hanya menjadi tanggung jawab tim tertentu, melainkan harus menjadi kesadaran bersama.

“Melalui pelatihan ini, Perhutani berharap seluruh karyawan memiliki bekal pengetahuan dan keberanian untuk bertindak. Kepanikan sering muncul karena ketidaktahuan, dan itu yang ingin kita cegah,” ujarnya.

Dalam sesi teori, petugas Damkar Purwokerto yang berperan sebagai instruktur simulasi, Dhani, menjelaskan penyebab terjadinya kebakaran, mulai dari korsleting listrik hingga kelalaian kecil yang kerap tidak disadari. Peserta juga dikenalkan pada prinsip dasar pencegahan, termasuk pentingnya mengenali sumber bahaya serta bertindak cepat sebelum api membesar.

“Penanganan awal sangat menentukan. Api kecil yang langsung ditangani akan jauh lebih mudah dikendalikan dibandingkan ketika sudah menyebar,” jelasnya.

Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis APAR dan fungsinya. Tabung berisi powder dinilai efektif untuk berbagai kelas kebakaran karena mampu menghambat reaksi kimia api sekaligus menutup akses oksigen. Penjelasan disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami, termasuk oleh peserta yang belum pernah menghadapi situasi darurat.

Setelah sesi teori selesai, kegiatan berlanjut di halaman kantor untuk praktik langsung. Pada sesi ini, peserta mencoba teknik pemadaman sederhana dengan menggunakan kain basah. Instruktur memperagakan cara menutup sumber api secara cepat dan rapat agar tidak ada celah udara yang masuk.

Beberapa karyawan maju secara bergantian. Gerakan mereka terlihat hati-hati, namun arahan yang jelas membuat proses berjalan lancar. Api dapat dipadamkan dalam hitungan detik. Suasana pun diwarnai canda, meskipun para peserta mengakui bahwa rasa panik dapat menghambat proses pemadaman. Sebagian peserta juga mengungkapkan bahwa mendekati sumber api menimbulkan rasa panas yang cukup menyengat, sehingga diperlukan keberanian dan ketenangan dalam bertindak.

Praktik berikutnya menggunakan APAR berisi powder. Peserta diajarkan langkah dasar yang mudah diingat, yakni menarik pin pengaman, mengarahkan nozzle ke pangkal api, menekan tuas, dan menyapukan semprotan secara merata.

Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan evaluasi singkat dan diskusi ringan. Meski halaman kantor kembali tenang, pemahaman baru telah tertanam bahwa keselamatan bukan sekadar prosedur, melainkan kebiasaan yang harus dijaga setiap hari. Dengan pengetahuan yang diperoleh, diharapkan setiap individu mampu menjadi garda terdepan dalam mencegah risiko dan menjaga lingkungan kerja tetap aman. Para peserta pun merasakan manfaat nyata dari kegiatan tersebut, tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dalam menghadapi kondisi darurat. (Kom-PHT/Byt/Mei)

Editor: Tri
Copyright © 2026