downloadINILAHKORAN.COM (26/1/2017) | Tidak salah jika sejak abad 18 lalu, seorang petualang dan ilmuwan jaman Belanda dulu, R. van Hoevel menilai kekayaan alam Kawasan Bandung Utara (KBU) dan khususnya Gunung Tangkubanparahu sebagai mahakarya alam yang mempesona.

Bisa jadi, Van Hoevel kala itu belum tahu, bahwa disekitar Tangkubanparahu terhampar kekayaan sumber daya alam. Titik-titik potensi wisata begitu banyak disekitar KBU ini. Mari saksikan sekarang, kawasan Lembang dan KBU menjadi magnet wisatawan lokal bahkan global.

Pesona Lembang memang tak ada duanya. Ditengah eksotisnya hawa dingin Lembang, rupanya banyak objek wisata yang belum tergali. Satu persatu bermunculan dengan menyuguhkan kekhasan alam yang berbeda.

Dan kini, satu lagi muncul objek wisata alam yang dijamin tak akan rugi mengunjunginya. Lokasinya ada di kawasan timur Lembang, tepatnya di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Curug Luhur Cibodas biasa Masyarakat lokal menyebut tempat ini. Sejak 2016 kemarin, keasrian tempat ini telah dirawat kuat oleh masyarakat setempat. Alhasil, pada pertengahan Januari 2017 ini, objek wisata Curug Luhur Cibodas resmi dibuka.

Tiba di air terjun ini, pengunjung akan langsung dimanjakan dengan pemandangan embun air dan rimbunnya pepohonan yang menutupi Curug yang tingginya sekitar 20 meter.

Selain memanjakan mata, hantaman air kedasar sungai ini akan terdengar indah seperti harmoni musik yang seirama dengan gesekan dedaunan yang tertiup angin.

Satu hal yang tak kalah menarik. Air di air terjun ini benar-benar bersih. Bagaimana tidak, hulu air di Curug ini berasal dari Gunung Bukit Tunggul dan hilirnya di Sungai Citarum hingga laut Jawa.

Nah, untuk sampai ke lokasi air terjun ini, wisatawan bisa masuk dari jalur timur Lembang dan kemudian akan menemukan plang khusus. Disitulah pintu gerbang Curug Luhur Cibodas.

Dipintu gerbang, wisatawan harus berjalan sepanjang dua kilometer untuk sampai lokasi. Harus diakui, jalan yang akan dilalui masih belum rata dan sempit jalannya. Nikmatilah sensasi berjalan didalam hutan.

Berjalan 2 KM tentu tidak akan rugi apabila menemukan jutaan inspirasi. Iya. Sepanjang perjalanan ini para pengunjung akan disuguhi hawa hutan alami, segarnya udara. Dijamin, berjalan menyusuri rimbunnya hutan pinus akan memanjakan mata pengunjung.

Pesona Curug Luhur Cibodas ini langsung membuat Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara bersama lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) kepincut. Keduanya pun sepakat untuk mengelolanya agar lebih campernik dan profesional.

Administratur KPH Bandung Utara, Wismo Tri Kancono mengungkapkan, penataan kawasan curug mulai dilakukan sejak November 2016. Dan pada pertengan bulan Januari ini, resmi dibuka untuk masyarakat umum.

“Seluruh penjualan tiket kerjasama dengan masyarakat hutan ini hasilnya dibagi dua untuk Perhutani dan ke kas desa,” kata Wismo, saat ditemui di Lembang, Kamis (26/1/2016).

Ia tentu menyambut baik pengelolaan Curug yang sejatinya berada dibawah pengelolaan Perhutani. “Pada prinsipnya kami ingin hutan tetap terjaga serta juga membuka pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan dan desa,” kata Wismo.

Pihaknya menyadari bahwa dalam menjaga hutan perlu melibatkan masyarakat lokal yang kebanyakan mengandalkan penghasilan dari pertanian dan perkebunan. Dengan adanya pengelolaan yang baik inilah, pendapatan masyarakat setempat akan jauh lebih meningkat.

Ia optimistis, wisata alam telah menjadi primadona dan digandrungi masyarakat kota. Banyak yang jenuh dengan rutinitas pekerjaan sehingga memilih alam untuk kembali merefresh jiwa, raga dan pikiran.

Dengan dibukanya objek wisata ini, diharapkan taraf ekonomi masyarakat sekitar obyek wisata pun dapat terangkat dengan tersedianya lapangan pekerjaan baru.

“Tahun lalu kita membuka 23 obyek wisata baru di kawasan hutan Bandung Utara yang dikerjasamakan dengan masyarakat lokal. Kalau ditotal dengan yang sudah dibuka di tahun-tahun sebelumnya, hingga saat ini sedikitnya ada 30 obyek wisata baru telah dibuka untuk umum,” bebernya.

Pada akhirnya, Wismo mengakui bahwa objek wisata ini belum sempurna. Perlu perbaikan disana sini agar masyarakat setempat dan wisatawan bisa mendapatkan manfaat yang lebih maksimal.

Saat ini, akunya, penataan objek wisata berbasis alam ini baru disekitar curug saja. Ia mengakui, penataan belum menyentuh pada perbaikan sarana jalan dan infrastruktur. Maka dari itu, pihaknya berharap pihak desa setempat bisa ikut memperbaiki jalan.

“Akses jalan untuk ke lokasi ini sangat kecil, hanya cukup untuk satu mobil saja. Kalau datang mobil dari arah berlawanan, pasti yang satu harus mundur, itu yang jadi persoalan,” katanya.

Setelah melengkapi sarana prasarana dengan membangun toilet, mushola bahkan arena bermain anak, pihaknya akan membatasi warung-warung yang berjualan di sekitar lokasi wisata dengan tujuan agar hutan tidak kotor oleh sampah.

“Meskipun dalam kerjasama kita dengan masyarakat memperbolehkan mendirikan warung tapi tidak bisa dalam jumlah yang banyak. Tetap harus dibatasi. Dan semua sarana yang dibangun tidak boleh permanen dengan tembok. Seluruhnya harus kayu,” beber Wismo. [jek]

Sumber: inilahkoran.com

Tanggal: 26 Januari 2017