KOMPASIANA.COM (27/08/2025) | Mari kita jujur sejenak. Kalau orang asing bilang ‘liburan ke Indonesia’, otomatis yang muncul di kepala mereka adalah Bali. Pantai, pura, beach club, nasi goreng ala bule, dan antrian panjang demi foto di satu spot Instagram yang itu-itu saja. Tepat sekali! Sudah terlalu sering dielu-elukan.
Kalau liburan ke Indonesia cuma berhenti di Bali, itu sama saja datang ke restoran all you can eat tapi cuma nyobain nasi putihnya. Padahal, di ujung timur Pulau Jawa ada Banyuwangi, si tetangga yang jarang dipandang, padahal diam-diam menyimpan rahasia yang bisa bikin wisatawan domestik maupun bule tercengang. Salah satunya adalah De Djawatan Forest.
Hutan ini bukan hutan biasa. Sejak 2018, kawasan ini resmi jadi destinasi wisata. Sebelumnya? Ya hanya jadi halaman belakangnya Perhutani, sepi, dan hanya dikenal orang dalam.
Lalu sekarang, siapa sangka tempat yang dulunya anak tiri ini menjelma jadi salah satu wajah ikonik pariwisata Banyuwangi. Dan, jujur saja, atmosfernya kadang terasa lebih sinematis daripada banyak spot foto buatan di Bali.
Nama De Djawatan pun bukan sekadar tempelan biar terdengar Instagramable. Kata ini punya sejarah: berasal dari Djawatan Kehutanan, nama lama Perhutani yang dulu jadi penguasa hutan.
Sampai sekarang, masyarakat Banyuwangi masih menyebutnya “Djawatan” dengan bangga, seolah hutan ini bagian dari identitas mereka. Bahkan, pintu masuknya saja berdiri di tanah milik PT KAI.
Jadi selain terdapat pepohonan, kawasan ini juga punya kisah panjang tentang sejarah perkeretaapian Indonesia, yang semuanya bercampur dalam satu lanskap.
Daya Tarik De Djawatan Forest
1. 800 Pohon Trembesi Raksasa ala Fangorn
Bayangkan masuk ke hutan yang berisi 800 pohon trembesi berusia seratusan tahun, dengan diameter batang mencapai dua meter. Cabang-cabangnya melingkar liar, menjuntai, dan dipenuhi lumut serta pakis yang tumbuh sembarangan. Matahari pun hanya berani menelusup sedikit demi sedikit, menciptakan cahaya dramatis seperti adegan film fantasi.
Banyak yang bilang: “Rasanya kayak masuk ke Hutan Fangorn di Lord of the Rings.” Dan memang benar. Hanya saja, di sini tidak ada Gandalf, hanya Anda, pohon, dan mungkin sinyal internet yang kadang ngambek.
2. Spot Foto Instagramable Tanpa Filter
Kalau di Bali harus antre setengah mati demi satu foto di depan pura, di sini setiap sudutnya gratis estetik. Cahaya matahari menembus dedaunan menciptakan efek healing glow yang bikin hasil foto seperti karya seni.
Banyak pasangan bahkan memilih hutan ini untuk prewedding, karena atmosfernya otomatis bikin aura romantic dan jauh lebih unik daripada foto standar di pantai Kuta.
3. Suasana Sejuk yang Menampar Stres
Tidak perlu AC, tidak perlu kipas, hutan ini sudah cukup jadi pendingin alami. Kanopi trembesi rapat membuat panas siang hari berubah jadi adem syahdu. Udara segar, bebas polusi, dan ditambah ketenangan yang mustahil ditemukan di kota besar.
Duduk santai di sini rasanya seperti menampar stres kehidupan sehari-hari, lalu berkata, “Diamlah, dunia. Aku mau piknik dulu.”
4. Fasilitas yang Membuatmu Serasa Main Film Petualangan
Mau pengalaman yang lebih dari sekadar jalan kaki? Silakan coba naik kuda atau andong mengelilingi hutan, seolah jadi bangsawan era kolonial yang sedang inspeksi perkebunan. Atau, kalau jiwa petualangmu lebih liar, gaspol dengan ATV di jalur berbatu yang disediakan. Sensasinya seperti main film Indiana Jones yang minus harta karun, plus bau tanah basah yang menenangkan.
5. Kulineran di Tengah Teduhnya Trembesi
Setelah puas jalan-jalan, ada kafe kecil di tengah hutan yang siap memanjakan lidah. Bayangkan menyeruput kopi panas atau makan gorengan sambil duduk di kursi kayu panjang, beratapkan kanopi trembesi raksasa.
Rasanya? Lebih nikmat daripada brunch overpriced di beach club Bali, karena di sini Anda ditemani oksigen murni, bukan asap rokok tetangga meja.
Panduan Kunjungan ke De Djawatan Forest
De Djawatan berada di Desa Purwosari, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Dari pusat kota, hanya sekitar 33 kilometer atau satu jam perjalanan.
Jangan khawatir tiketnya mahal, karena tiketnya cuma Rp6.000 per orang. Jam buka mulai pukul 08.00 hingga 17.30, cukup untuk menikmati cahaya pagi hingga sore keemasan.
Rute ke sini pun mudah, dengan petunjuk arah jelas dan Google Maps yang selalu siap jadi pemandu. Dari Alun-Alun Banyuwangi, ikuti jalur utama ke arah Jalan Jenderal Sudirman, lalu teruskan perjalanan hingga menemukan gapura bertuliskan “Wisata De Djawatan.” Dari situ, tinggal belok kanan dan parkir. Sesederhana itu, ya!
Jadi, Mengapa Harus De Djawatan?
Karena dunia tidak berakhir di Bali. Ada Banyuwangi dengan hutan mistisnya yang magis, alami, dan fotogenik tanpa banyak polesan. De Djawatan Forest bukan hanya destinasi, tapi pengalaman seperti duduk di bawah pohon raksasa, membiarkan cahaya menari di wajah, dan merasakan hutan yang seolah bernafas bersama Anda.
Singkatnya, kalau ingin merasa seperti masuk ke film fantasi tapi malas ke Selandia Baru, silakan datang ke Banyuwangi. Tiket murah, pohon raksasa, udara segar, dan foto-foto Instagram yang bisa bikin orang bertanya, “Ini di luar negeri ya?”
Sumber : kompasiana.com