KEDU SELATAN, PERHUTANI (10/08/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Selatan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat desa hutan dengan mempromosikan produk mitra binaannya pada acara Borobudur Indonesia Expo yang diselenggarakan di kawasan Pendopo Kabupaten Purworejo, Minggu (10/08).
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mitra binaan Perhutani merupakan usaha yang mendapat dukungan dan pendampingan dari Perhutani, mencakup berbagai aspek mulai dari pelatihan hingga pemasaran. Sebagai bentuk dukungan tersebut, Perhutani senantiasa berpartisipasi dalam pameran atau expo yang digelar oleh pemerintah daerah maupun instansi lainnya.
Administratur KPH Kedu Selatan, Nandang Kusnandar, saat berkunjung ke expo, menyampaikan bahwa Perhutani sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang pengelolaan hutan memiliki visi menjadi perusahaan pengelola hutan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Perhutani turut berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat desa hutan, di antaranya dengan memberikan pendampingan dan pembinaan kepada UMKM masyarakat desa hutan. Salah satunya pendampingan kepada UMKM perajin anyaman pandan Kelompok Usaha Produktif (KUP) Margo Rahayu yang memproduksi topi, tas, sandal, tempat mahar, kopiah, tempat tisu, dan lain-lain,” ujarnya.
Usaha anyaman pandan yang diketuai Sugiyem ini berlokasi di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen. Desa Grenggeng berada di dalam Petak Hutan 121 Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Karanggayam, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karanganyar, KPH Kedu Selatan. Tenaga kerja KUP Margo Rahayu sebagian besar berasal dari Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu RPH Karanggayam BKPH Karanganyar KPH Kedu Selatan.
Ketua KUP Margo Rahayu. Sugiyem, perajin anyaman pandan mitra binaan Perhutani, menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan dan pembinaan yang telah diberikan. “Syukur alhamdulillah, produk-produk kami banyak yang dipesan, bahkan sampai ke luar negeri. Dalam sehari kami dapat menghasilkan kurang lebih 30 jenis produk, antara lain berbagai model tas, sandal, topi, tempat tisu, dompet, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Pihaknya merekrut sekitar 25 warga sekitar, kebanyakan ibu rumah tangga. Bahan baku diperoleh dari tanaman pandan yang ditanam warga di pekarangan masing-masing. “Puji syukur, KUP memberikan kesempatan kepada warga Desa Grenggeng untuk mendapatkan penghasilan tambahan,” tuturnya. (Kom-PHT/Kds/Rwi)
Editor: Tri
Copyright © 2025