Kegiatan tersebut dihadiri Administratur, KPH Pekalongan Timur, Sugeng Bowo Leksono, Kepala Seksi Wisata, Divisi Regional Jawa Tengah, R.R. Sylvia Koesoemaningrum, serta pengelola objek wisata Forest Kopi, Hasan Efendi. Turut hadir jajaran manajemen KPH Pekalongan Timur, petugas teknis lapangan, dan unsur pengelola yang selama ini terlibat langsung dalam operasional kawasan wisata.
Administratur, KPH Pekalongan Timur, Sugeng Bowo Leksono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Audit Risk Assessment, merupakan tahapan penting dalam sistem pengendalian internal Perhutani, untuk mengidentifikasi, menganalisis, serta memitigasi berbagai potensi risiko yang dapat muncul dalam pengelolaan objek wisata. Risiko tersebut meliputi aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), keamanan pengunjung, kelayakan fasilitas, hingga dampak terhadap kelestarian lingkungan.
“Melalui tindak lanjut audit ini, kita ingin memastikan seluruh rekomendasi dapat dilaksanakan secara bertahap dan terukur. Tujuannya agar Forest Kopi, benar-benar menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, ramah lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” tegasnya.
Ia, menambahkan bahwa pengembangan wisata hutan, tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga harus memperhatikan daya dukung kawasan serta prinsip kelestarian hutan. Oleh karena itu, sinergi antara KPH, Divisi Regional Jateng, dan pengelola, menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan pengelolaan wisata yang berkelanjutan.
Kepala Seksi Agro dan Wisata, Divisi Regional Jawa Tengah R.R. Sylvia Koesoemaningrum, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan kepada unit kerja dan pengelola wisata agar seluruh objek agrowisata dan ekowisata Perhutani, memiliki standar pengelolaan yang seragam.
“Kami melakukan pengecekan terhadap tindak lanjut rekomendasi audit, mulai dari perbaikan sarana dan prasarana, penataan jalur pengunjung, pemasangan rambu keselamatan, hingga penyusunan standar operasional prosedur (SOP). Harapannya, Forest Kopi, dapat menjadi contoh pengelolaan wisata hutan yang baik di wilayah Divisi Regional Jawa Tengah,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, tim juga melakukan peninjauan lapangan untuk melihat secara langsung kondisi fasilitas, area parkir, jalur tracking, spot foto, serta lokasi usaha penunjang seperti kedai kopi, dan area istirahat pengunjung. Hasil peninjauan menjadi bahan evaluasi bersama untuk menentukan prioritas perbaikan ke depan.
Pengelola Forest Kopi, Hasan Efendi, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan dari Perhutani.
Ia, menyatakan pihaknya siap menindaklanjuti seluruh rekomendasi yang diberikan dan terus berkoordinasi dengan KPH Pekalongan Timur.
“Bagi kami, masukan dari Perhutani, sangat penting untuk meningkatkan kualitas pengelolaan. Kami berkomitmen menjaga keamanan pengunjung sekaligus mempertahankan keasrian hutan sebagai daya tarik utama Forest Kopi,” ujarnya.
Melalui kegiatan tindak lanjut Audit Risk Assessment ini, Perhutani, KPH Pekalongan Timur, berharap pengelolaan Forest Kopi, ke depan semakin profesional, tertib administrasi, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi perusahaan, masyarakat, dan kelestarian sumber daya hutan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Perhutani, dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah berbasis alam yang berkelanjutan. (Kom-PHT/Pkt/Ran)
Editor: Tri
Copyright © 2026