Setelah melalui perjuangan berat, akhirnya Direksi Perhutani yg diwakili oleh Direktur Industri Pemasaran Dr. Ahmad Fachroji bersama dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, sampai di Posko pengungsian korban letusan merapi Hargowinangun pada Sabtu (30/10/2010).
Sebelumnya, rombongan Perhutani dan Menhut ini mengunjungi kantor Balai Taman Nasional di Kaliurang dan melihat kondisi kerusakan taman nasional.
Dalam siaran pers yang diterima Neraca, Minggu (31/10), Perhutani menyatakan, tidak ada para petugas dari kehutanan maupun Perhutani yang jadi korban dalam musibah ini.
Perhutani melalui Perhutani Peduli Korban Bencana Gunung Merapi telah mernbangun dua pos bantuan di wilayah KPH Telawa dan KPH Kedu Utara, dua wilayah hutan yang berbatasan dengan lereng merapi. Perhutani secara korporasi memberikan bantuan dana tunai sebesar Rp. 100.000.000 (Seratus juta rupiah) di lokasi pengungsian Hargowinangun dan diserahkan langsung oleh Zulkifli Hasan dan diterima langsung oleh Camat Pakem, Budi Harjo mewakili warganya. Selain itu pengungsi juga menerima sumbangan sosial dari Kementerian Kehutanan.
Menurut Corporate Secretary & Legal Head Perhutani, Hari Priyanto, sebagai bentuk solidaritas sosial terhadap korban bencana, para karyawan Perhutani dan koperasi karyawan tengah mengumpulkan bantuan yang akan disampaikan kepada pengungsi melalui posko BUMN Peduli di Pakem Yogyakarta.
Bencana alam meletusnya Gunung Merapi ini menimbulkan banyak kerugian baik korban jiwa maupun kerugian materi lainnya, banyak warga masyarakat sekitar yang harus mengungsi ke tempat yang lebih aman dan mereka sangat mernbutuhkan bantuan.
Saat bercakap-cakap dengan para pengungsi, Achmad Fachroji mendapat informasi bahwa para pengungsi membutuhkan bantuan selimut, handuk, pakaian hangat, obat-obatan dan bahan makanan. Selain makanan, obat-obatan maupun selimut, mereka membutuhkan fasilitas air bersih dan kamar mandi yang memadai karena mereka mulai terserang berbagai penyakit karena tempat pengungsian yang tidak memadai. Warga masih memilih antri di kamar mandi di sekolah sekolah maupun bangunan lain.
Berita terakhir menunjukkan bahwa hujan abu dan hujan pasir letusan Gunung Merapi mencapai pusat kota Yogyakarta, setelah sebelumnya mengeluarkan awan panas. Hujan abu kota Yogyakarta terjadi cukup pekat setelah letusan Gunung Merapi Tanggal 30 Oktober Pukul 01.00. Hujan abu terjadi hampir di seluruh wilayah kota Yogyakarta. Hujan Abu mencapai lebih dari 30 Km dari puncak Merapi, hujan abu bercampur pasir turun dengan deras, sempat pula turun bersama air terjadi di wilayah Kaliurang sampai pukul 02.30, di beberapa titik, abu bercampur pasir menutupi jalan setinggi setengah cm. Humas Perum Perhutani .• kam
Nama Media : HARIAN NERACA
Tanggal : Senin, 1 Nopember 2010