TRIBUNNEWS.COM (01/02/2026) | Malang masih menjadi primadona bagi warga menghabiskan liburan maupun melepas penat.
Berbagai tempat di sudut-sudut Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu tidak luput dari sasaran warga mencari tempat untuk sekadar melepas penat.
Salah satu yang wajib dikunjungi yakni Burning Bar, sebuah tempat nongkrong yang terletak tepat di perbatasan dua wilayah antara Kota Batu dan Kabupaten Malang.
Burning Bar menawarkan pengalaman kuliner sederhana namun kaya akan pemandangan alam (point of interest) yang memanjakan mata.
Burning Bar yang masuk dalam kawasan Perhutani Malang yakni di Gunung Banyak wajib dikunjungi karena lokasinya bisa melihat indahnya panorama Kabupaten Malang dan Kota Batu sekaligus dari satu titik.
Dari pengamatan Tribun Jatim Network, Pengunjung dapat melihat dari berbagai sisi di Burning Bar.
Dari sisi barat menampilkan lanskap Kabupaten Malang, khususnya wilayah Pujon dan sisi timur menyuguhkan pemandangan Kota Batu yang ikonik.
Berbeda dengan konsep kafe modern, Burning Bar justru memilih kembali ke akar dengan hanya menawarkan tiga jenis makanan utama yang merepresentasikan kekayaan bumi disekitarnya.
Menu polo pendem yakni jenis umbi-umbian dan hasil bumi seperti ketela kawi, kentang, hingga pisang menjadi menu utama di Burning Bar.
“Jadi kita angkat potensi lokal disini dari wilayah Malang. Kentangnya dari Kota Batu, Ketela dari Kabupaten Malang dan pisang,” terang pengelola Burning Bar, Bambang Ariyanto, Minggu (1/2/2026).
Meski menawarkan pemandangan yang istimewa, Burning Bar tidak mengenakan tiket masuk untuk menikmati suasana di sana.
Harga menu yang ditawarkan pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp40.000.
“Tidak ada tiket masuk, langsung saja. Kalau menu yang disajikan kita mulai dari harga Rp 15 ribu,” jelas Bambang.
Selain menjadi tempat nongkrong yang asyik, di Burning Bar juga menjadi wadah bagi komunitas “Barbarian”.
Burning Bar menjadi markas bagi komunitas Barbarian yakni, sebuah kumpulan orang-orang dari lintas profesi, mulai dari seniman hingga pengusaha yang rutin melakukan aktivitas fisik di alam.
Setiap hari Jumat setelah waktu salat Jumat, komunitas ini mengadakan kegiatan tracking sejauh 3 hingga 5 kilometer di sekitar wilayah Malang dan Batu.
Menariknya, kegiatan ini terbuka bagi warga umum yang ingin bergabung merasakan pengalaman menikmati alam secara langsung.
“Kalau warga maupun pengunjung mau ikut juga boleh, setiap hari Jumat, kita menyusuri alam disekitar kafe ini,” tutur Bambang.
Sementara itu, Angel salah satu pengunjung mengaku jika dirinya sengaja datang untuk refreshing.
“Iya tadi kan pulang kerja, langsung ke sini, bagus pemandangannya,” terang Angel.
Dirinya juga mengikuti komunitas Barbarian dan berlari di sekeliling kafe Burning Bar.
“Tadi juga ikut lari, seger udaranya, enak kok. Makanannya juga worth it banget,” tambahnya.
Sumber : tribunnews.com