BANYUWANGI SELATAN, PERHUTANI (23/04/2026) | Perhutani Banyuwangi Selatan menggelar kegiatan “Ngopi Bareng” (Ngobar) bersama lintas elemen masyarakat di Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Banyuwangi, Kamis (23/04). Kegiatan ini bertujuan memperkuat silaturahmi, komunikasi, serta sinergi dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan dan program ketahanan pangan.

Acara yang dirangkai dengan diskusi kebangsaan ini melibatkan unsur media, LSM, akademisi, budayawan, pelaku UMKM, serta tokoh masyarakat. Fokus pembahasan mencakup penguatan kolaborasi melalui prinsip 3-KO (komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi), serta penerapan tiga aspek utama pengelolaan hutan, yakni ekologi, ekonomi, dan sosial.

Ketua Rumah Kebangsaan Banyuwangi sekaligus Koordinator Sekretariat Bersama (Sekber) Media dan LSM, Hakim Said, menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam pengelolaan hutan agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Pengelolaan hutan harus memperhatikan keseimbangan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Selain itu, diperlukan komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang kuat antarinstansi dan stakeholder untuk mendukung program pemerintah, termasuk ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyatakan kesiapan pihaknya untuk terus mendukung Perhutani dalam pengelolaan hutan berbasis kolaborasi dengan masyarakat sesuai regulasi yang berlaku.

Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan, Wahyu Dwi Hadmojo, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang telah terjalin dengan Rumah Kebangsaan dan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, forum diskusi ini menjadi sarana strategis untuk memperkuat komunikasi dan harmonisasi dalam pengelolaan hutan.

“Perhutani terbuka terhadap masukan konstruktif dari berbagai pihak guna mendukung pengelolaan hutan yang lestari dan bermanfaat bagi masyarakat. Kami juga mendukung program ketahanan pangan melalui kegiatan tumpangsari bersama LMDH di kawasan hutan,” jelasnya.

Wahyu menambahkan, kolaborasi lintas sektor perlu terus ditingkatkan, khususnya dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, media, serta pegiat lingkungan, guna menjaga kondusivitas dan keberlanjutan fungsi hutan.

Sementara itu, budayawan Banyuwangi, Aekanu, mengapresiasi keterbukaan Perhutani dalam menjalin kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia menilai pendekatan tersebut menjadi langkah positif dalam mendukung pengelolaan hutan yang inklusif dan berkelanjutan.

Hal senada disampaikan akademisi Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi, Dr. Setyo Utomo, yang menyatakan dukungannya terhadap pengelolaan hutan berbasis kolaborasi dan penguatan program ketahanan pangan melalui sistem tumpangsari.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi antara Perhutani dan seluruh pemangku kepentingan semakin kuat, sehingga pengelolaan hutan dapat berjalan optimal, lestari, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Kom-PHT/Bws/Dik)

Editor: Lra
Copyright©️2026