KEDIRI, PERHUTANI (04/03/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek dan tim gabungan TNI/Polri melakukan pengecekan lokasi longsor di Km 16 jalur Trenggalek–Ponorogo, Rabu (04/03).
Kegiatan ini merupakan langkah mitigasi untuk mengantisipasi longsor susulan sekaligus memastikan keselamatan petugas sebelum proses pembersihan material dilakukan. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Administratur Kediri Selatan Hermawan mewakili Administratur KPH Kediri, Dandim 0806/Trenggalek Letkol Inf Isnanto Roy Saputro, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stevanus Triadi Atmono, Kasat Lantas Polres Trenggalek AKP Sony Suhartanto, perwakilan Basarnas, Dinas PUPR Trenggalek, Koramil Tugu, Muspika Tugu, serta Tiga Pilar Desa Nglinggis.
Administratur Perhutani KPH Kediri melalui Wakil Administratur Kediri Selatan Hermawan menyampaikan bahwa Perhutani bergerak cepat berkoordinasi dengan BPBD dan TNI/Polri untuk melakukan asesmen awal menggunakan teknologi drone.
“Melalui pemantauan udara, kami dapat mengidentifikasi titik awal longsor dan memastikan tidak ada potensi longsor susulan sebelum tim gabungan melakukan pembersihan material batu yang menutup badan jalan,” ujarnya.
Dandim 0806/Trenggalek Letkol Inf Isnanto Roy Saputro menambahkan, sebelum pembersihan dilakukan, tim gabungan melaksanakan pemetaan dan penilaian tingkat kerawanan lereng guna menentukan metode penanganan yang aman bagi personel maupun pengguna jalan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek Stevanus Triadi Atmono menyampaikan bahwa jalur nasional Trenggalek–Ponorogo ditutup sementara untuk seluruh jenis kendaraan demi keselamatan. Polres Trenggalek mengarahkan arus lalu lintas melalui jalur alternatif Desa Tegaren, Kecamatan Tugu, menuju Desa Pangkal, Kecamatan Sawo, Kabupaten Ponorogo.
Untuk mempercepat penanganan, Basarnas bersama Forkopimda dan organisasi perangkat daerah terkait menurunkan tiga unit ekskavator dan satu unit breaker dari Dinas PUPR guna memecah dan mengangkat material batu besar.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat pembukaan akses jalan sekaligus meminimalkan risiko bencana susulan di kawasan hutan. (Kom-PHT/Kdr/Ton)