KENDAL, PERHUTANI (27/01/2026) | Perum Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal, melaksanakan kegiatan pruning atau pemangkasan pohon jati sebagai upaya meningkatkan kualitas kayu jati. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sojomerto Timur, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sojomerto, pada Senin, (26/01).
Pruning pohon jati dilakukan untuk menghasilkan batang yang lurus, bebas cabang atau mata kayu, sehingga kualitas kayu jati yang dihasilkan menjadi lebih optimal. Pemangkasan umumnya dimulai pada tahun ke-3, dengan membersihkan sekitar 50 persen, dahan di bagian bawah batang, terutama pada awal musim hujan. Teknik ini dinilai penting untuk mengarahkan pertumbuhan pohon agar lebih optimal.
Administratur KPH Kendal, Muhadi, melalui Kepala BKPH Sojomerto, Setijo Darmo, menjelaskan bahwa pohon jati, merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan unggulan yang menghasilkan kayu berkualitas tinggi.
“Pohon jati, memiliki ciri batang lurus, ukuran besar, dan mampu tumbuh dengan ketinggian antara 30 hingga 40 meter. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Tectona grandis. Kayu jati, banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti bahan pembuatan perahu, lemari, alat musik, gelagar, dan produk kayu lainnya,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan pruning tersebut, Perhutani, melibatkan dan memberdayakan masyarakat tepi hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Keterlibatan masyarakat dinilai memudahkan pengawasan kegiatan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar hutan.
“Untuk luasan sekitar lima hektare, tenaga kerja yang dibutuhkan berkisar antara lima hingga delapan orang. Dengan memberdayakan masyarakat sekitar hutan, kegiatan pruning dapat berjalan efektif sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi mereka,” imbuh Setijo Darmo.
Ia, menambahkan bahwa kegiatan pruning diharapkan mampu mendukung kelestarian kawasan hutan. Selain mempercepat pertumbuhan tanaman jati, kawasan hutan juga lebih cepat kembali hijau dan secara berimbang mampu memasok kebutuhan kayu bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sojomerto Barat, Dasmono, menjelaskan bahwa tujuan utama pruning adalah meningkatkan kualitas kayu jati sejak dini.
“Pemangkasan dilakukan untuk menghilangkan cabang agar batang utama bersih dari bekas dahan, sehingga kayu yang dihasilkan lurus dan berkualitas premium. Selain itu, pruning bertujuan mengarahkan energi tanaman ke pertumbuhan diameter batang utama, bukan ke pertumbuhan cabang,” ujarnya.
Dasmono, menjelaskan bahwa pemangkasan pertama biasanya dilakukan pada tanaman berumur sekitar dua hingga empat tahun. Alat yang digunakan berupa gergaji pangkas atau gunting dahan yang tajam dan bersih guna menghindari luka pecah serta mencegah infeksi penyakit pada tanaman.
Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Rejeki , Sinung Darojat berharap kegiatan pruning pohon jati yang dilaksanakan Perhutani dapat terus berkelanjutan. Menurutnya, selain meningkatkan kualitas kayu jati, kegiatan tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa hutan melalui keterlibatan langsung dalam pemeliharaan tanaman.
Ia menambahkan, sinergi antara Perhutani dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar hutan.
Selain pruning, pemeliharaan tanaman jati juga mencakup kegiatan pendangiran atau penggemburan tanah serta pemupukan untuk memastikan kecukupan unsur hara. Masyarakat pun menyambut baik kegiatan tersebut karena selain menjaga kelestarian hutan, mereka juga memperoleh manfaat ekonomi dari keterlibatan dalam kegiatan pemeliharaan tanaman jati. (Kom-PHT/Kdl/Tmy)
Editor: Tri
Copyright © 2026