KENDAL, PERHUTANI (15/07/2025) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal melakukan identifikasi potensi bahaya (risk assessment) bersama Auditor Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Kepolisian Daerah Jawa Tengah dan Pengelola Wisata Curug Sewu Kendal pada Senin (14/07). Curug Sewu sendiri merupakan wana wisata yang berada di kawasan hutan Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sojomerto Selatan, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sojomerto.
Pengelolaan wisata Curug Sewu dilakukan melalui kerja sama antara Perhutani KPH Kendal dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal. Kegiatan risk assessment tersebut dihadiri oleh Administratur KPH Kendal beserta jajaran, Auditor Polda Jawa Tengah, Kepala Seksi Utama Ekowisata Divisi Regional (Divre) Jawa Tengah, serta Pengelola Wana Wisata Curug Sewu.
Administratur KPH Kendal, Muhadi, menyampaikan bahwa risk assessment merupakan identifikasi terhadap risiko potensi bahaya yang timbul pada suatu kegiatan, dalam hal ini pengelolaan wisata alam. “Wisata Curug Sewu merupakan wana wisata kerja sama antara Perhutani KPH Kendal dengan Disporapar Kabupaten Kendal. Pada hari ini, Curug Sewu menjadi salah satu lokasi penilaian risk assessment dari tim Ditpamobvit Polda Jawa Tengah,” katanya.
Menurutnya, kondisi wisata Curug Sewu cukup baik dari segi penataan ruang dan pemberian papan pengumuman. Ia menjelaskan bahwa pada lokasi Curug Sewu terdapat beberapa fasilitas dan spot menarik seperti gardu pandang, kolam renang, aula pertemuan, toilet, tempat bersantai, warung kopi, serta spot-spot foto menarik seperti tangga samping curug utama dan lainnya.
Sementara itu, Auditor Ditpamobvit Polda Jawa Tengah, AKBP Indriyanto, menjelaskan bahwa penilaian risk assessment memiliki beberapa elemen utama, antara lain keamanan dan keselamatan. Ia menyatakan bahwa Polda melalui Ditpamobvit secara aktif melakukan risk assessment di berbagai objek wisata untuk memastikan keamanan dan keselamatan pengunjung.
“Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi potensi risiko, mengevaluasi keamanan, dan memberikan rekomendasi sistem manajemen pengamanan (SMP) yang sesuai untuk meminimalkan ancaman bencana atau insiden lainnya di destinasi wisata,” jelasnya. Ia berharap lokasi objek wisata dilengkapi dengan berbagai papan pemberitahuan dan jalur evakuasi terhadap risiko terjadinya bencana. (Kom-PHT/Knd/Bkt)
Editor: Tri
Copyright © 2025