TRIBUNNEWS.COM (28/12/2025) | Momen tidak terlupakan dirasakan wisatawan saat berkunjung ke Pantai Bajulmati di Desa Gajahrejo, Kecamatan GedanganKabupaten Malang, Sabtu (27/12/2025).

Mereka datang tidak hanya menikmati debur ombak Pantai Bajulmati saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), namun juga mendapat pengalaman yang berharga.

Para wisatawan, mulai dari orangtua, remaja hingga anak-anak, diajak Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang bersama BSTC (Bajulmati Sea Turtle Conservation) melepas tukik (anak penyu) jenis Penyu Hijau menuju habitatnya.

Tukik yang populasinya terancam punah itu dilepas menuju samudera dengan penuh tawa bahagia dan haru oleh wisatawan sebagai spesies kunci yang menjaga kesehatan ekosistem laut, seperti terumbu karang serta berperan dalam sirkulasi nutrisi di laut.

Ketua BSTC, Sutari menjelaskan jika misi utama yakni penyelamatan penyu agar populasinya tidak punah.

“Karena tetap ya misi kita penyelamatan, selepas kita relokasi, kita tetaskan dalam inkubasi sudah menetas, kita harus lepas liarkan,” terang Sutari.

“Penyu dan tukik ini tidak bisa ditangkarkan atau dibesarkan, karena kalau dibesarkan sifat ketergantungan muncul.”

“Maka dari itu, penyu migrasi harus kita lepaskan supaya bisa cepat merawat ekosistem yang di laut,” tambahnya.

Sutari menuturkan jika penyu mempunyai peran yang besar dalam ekosistem laut.

“Karena penyu ini berfungsi sangat banyak sekali untuk menyelamatkan ekosistem yang di laut.”

“Terumbu karang yang mati terbungkus lumpur, plastik, ini salah satunya penyu yang bisa membuka pori-pori,” tuturnya.

“Terumbu karang yang mati tadi dimunculi alga, nah alga dimakan penyu, akhirnya pori-pori tumbuh kembali,” tambahnya.

“Fungsi terumbu karang ini bisa menahan gelombang, terus bisa buat persembunyian ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil itu bisa bertelur di situ.”

persembunyian ikan-ikan kecil. Ikan-ikan kecil itu bisa bertelur di situ.”

“Jadi populasi ikan itu semakin banyak, laut lestari gara-gara si penyu tadi,” urainya.

Sementara itu, Kepala Perhutani KPH Malang, Kelik Djatmiko menjelaskan pihaknya terus berkolaborasi dengan BSTC serta BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dalam pelestarian alam salah satunya dengan penyelamatan penyu.

“Jadi hari ini kita akan melepaskan tukik ke laut, agar semakin berkembang di laut.”

“Ini merupakan agenda yang sudah berulang kali dilakukan oleh BSTC maupun Perhutani bekerjasama dengan BKSDA.”

“Hari ini kita lepas 200 an tukik menuju habitatnya bersama wisatawan juga,” tambahnya.

Perhutani KPH Malang memfasilitasi tempat dikawasan hutan untuk pelestarian penyu.

Tidak hanya itu, keamanan maupun petugas-petugas yang dibutuhkan untuk menjaga juga diberikan.

“Jadi kita support penuh selain tempat, juga kita siapkan keamanan maupun petugas-petugas yang dibutuhkan untuk menjaga dan lain sebagainya kita support,” tutur Kelik.

Pihaknya membuka penuh peluang bagi siapapun untuk bekerjasama terutama untuk pelestarian alam dan lingkungan.

“Saya kira sangat terbuka untuk berkolaborasi, bekerja sama dengan NGO (Non Governmental Organization) dan masyarakat yang peduli dengan lingkungan,” katanya.

“Yang jelas kalau NGO kan itu kerjasama non-profit ya. Saya yakin untuk mekanisme kerjasamanya harus ada pengajuan, dan secara administrasi mungkin tidak banyak persyaratan yang harus dipenuhi,” tambahnya.

Wisatawan yang hadir langsung sangat senang dengan kegiatan tersebut, bahkan baru pertama kali melihat dan melepaskan tukik menuju habitatnya.

Diah Hindayati, wisatawan asal Kota Malang, mengaku senang saat melepas tukik.

“Karena saya terus terang saya belum tahu ya antara perbedaan tukik dan penyu, serta kura-kura. Ternyata memang beda, jauh beda banget,” terang Diah.

“Tadi di depan dijelaskan kalau penyu itu 20 tahun lagi akan kembali ke tempat telur yang pertama.”

“Excited banget sih saya baru kali ini lihat yang namanya tukik itu. Karena selama ini tahunya itu kan kura-kura Brazil gitu-gitu. Ini excited banget.” tambahnya.

Hal senada juga dikatakan Khansa Sadya Nabilah yang saat itu menikmati liburan dan diajak melepas tukik ke pantai.

Mahasiswa asal Jakarta itu bilang jika rasa penasarannya terhadap tukik terjawab.

“Meski background pendidikan saya bukan di konservasi, jadi dengan ke sini saya bisa tahu, yang dulu saya penasaran selama ini jadi tahu gitu,” terang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) itu.

Nabila, sapaan akrabnya mengaku, jika momen pelepasliaran tukik itu menjadi yang paling seru.

“Paling seru sih dari pelepasan tukiknya sendiri, gitu. Jadi saya bisa melihat tukik sedekat itu tuh, apa ya, memorable banget sih.” pungkasnya.

Sumber : tribunnews.com