DETIK.COM (4/4/2018) | Sebanyak 297 fosil yang ditemukan di Karangjati, Ngawi dibawa ke kantor Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Saradan, Madiun. Fosil-fosil ini dibawa dalam 2 peti kayu.

Pemindahan fosil ke kantor KPH Saradan yang terletak di Jalan Rimba Karya, Kota Madiun ini bertujuan untuk memastikan keamanan ratusan fosil yang masih diteliti tersebut.

“Jadi langkah yang kita lakukan demi keamanan maka semua kita bawa ke kantor KPH Saradan di Kota Madiun. Karena di BKPH Rejuno kurang begitu aman soalnya ini barang yang dilindungi penerintah,” jelas kepala Administratur Perum Perhutani KPH Saradan, Djohan Surjo Putro kepada detikcom, Rabu (4/4/2018).

Selain membawa 297 fosil ke Madiun, Djohan mengaku pihaknya akan secepatnya melakukan pembahasan dengan Kementerian Kehutanan terkait mekanisme yang akan diambil jika fosil temuan warga di area lahan Perhutani dibawa ke Museum Trinil.

“Secepatnya kita akan bahas baik dengan perhutani yang di Surabaya ataupun di Jakarta, termasuk seperti apa penghargaan yang diberikan kepada penemu fosil ini,” terang Djoni.

Fosil-fosil yang sebelumnya disimpan di Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan BKPB Desa Rejuno itu sedang diteliti oleh tim arkeolog dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sragen Jawa Tengah. Tim ini juga telah mengambil sampel tanah dan fragmen fosil untuk dikaji.

Saat ini 297 fosil yang ditemukan di Ngawi telah diberi label angka sesuai jumlahnya. Yang terbesar adalah bagian kaki gajah purba dengan panjang mencapai 90 cm dan diameter 20 cm. Sisanya berupa serpihan tulang yang rusak akibat terkena benda tajam saat penggalian.

Fosil-fosil tulang ini rata-rata berukuran panjang antara 3-15 cm dengan diameter 3-5 cm. Selain fosil gajah purba, tim peneliti juga menemukan fosil tanduk hewan banteng dengan panjang 43 cm dan diameter 27 cm.

Sumber : detik.com

Tanggal : 4 April 2018