KOMPASIANA.COM (31/12/2025) | BANYUMAS TIMUR, PERHUTANI (30/12/2025) | Gunung Kelir, destinasi hiking yang semakin populer di Kabupaten Purbalingga, kini menarik perhatian wisatawan lokal dan penggemar alam bebas, meskipun belum banyak muncul dalam berita di media-media besar. Gunung yang terletak di Dusun Kutabawa, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja ini memiliki ketinggian sekitar 1.373 meter di atas permukaan laut dan dikenal dengan pemandangan alam yang spektakuler serta udara pegunungan yang sejuk.

Lebih mendalam, Gunung Kelir sendiri sebenarnya adalah bukit atau tebing yang terjal. Tebing batu alam yang menjulang ini mirip seperti layar. Layar wayang, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa menjadi “kelir”. Itulah sebabnya masyarakat setempat menamai tebing ini “Gunung Kelir”, sebab bentuknya yang seperti layar megah berukuran super besar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Kelir berkembang menjadi salah satu rute hiking favorit di kawasan Jawa Tengah, terutama bagi para pendaki pemula dan komunitas olahraga outdoor. Rute trekking-nya yang ramah juga memungkinkan pengunjung berwisata bersama anggota keluarga. Jalur pendakian via Kubang—jalur kelolaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur—menjadi rute yang paling dikenal, meski medan jalan yang menanjak tetap menuntut stamina fisik serta kesiapan perlengkapan yang memadai.

Penguji Tingkat II Perhutani KPH Banyumas Timur yang menjadi salah satu tim monitoring wisata pada masa libur Nataru, Miftahudin, menjelaskan bahwa Gunung Kelir menjadi lokasi incaran wisatawan yang senang berburu pemandangan samudra awan. Jika datang di waktu yang tepat dan cuaca yang bagus, potret indah dari langit menjadi oleh-oleh berkesan bagi yang berhasil menangkapnya dengan lensa kamera.

“Jadi, Gunung Kelir bukan cuma ideal untuk pendaki saja, tapi juga wisatawan biasa. Di sini, selain mendaki, pengunjung diberi bonus pemandangan alam dan berkesempatan camping,” jelasnya.

Di awal perjalanan, jalur trekking yang landai dihiasi dengan perkebunan sayur masyarakat setempat. Kontur tanah mulai menanjak setelah melewati area perkebunan. Namun, pendaki tidak perlu khawatir. Setelah tiba di puncak, ada sejumlah penjual jajanan tradisional yang bisa mengatasi rasa lelah setelah mendaki.

Ditemui saat monitoring pada Selasa (30/12), Ketua Pengelola Basecamp, Adi S., mengungkapkan bahwa jumlah pengunjung Gunung Kelir cenderung meningkat pada akhir pekan dan hari libur nasional. Ia mengamini hal serupa bahwa bentang alam yang disuguhkan di puncak memanjakan mata yang memandangnya sembari menikmati perbekalan.

“Puncak Gunung Kelir menawarkan panorama yang luar biasa — mulai dari hamparan pepohonan hijau hingga suasana sunrise yang sering menjadi daya tarik utama,” ujar salah satu pemandu lokal di basecamp.

Meski begitu, peningkatan kunjungan juga mendorong kebutuhan akan pengelolaan yang lebih baik. Salah satu pengunjung yang juga merupakan anggota kelompok pecinta alam, Dhina, menyoroti pentingnya aturan pendakian yang jelas, termasuk kewajiban membawa turun sampah sendiri dan larangan terhadap tindakan yang bisa merusak lingkungan.

“Menurut saya ini penting sekali, karena Gunung Kelir masih relatif asri. Jangan sampai pengunjung berpikir bisa membuang sampah sesuka hati, padahal sudah diberi jalur mendaki yang tidak sulit,” pungkasnya.

Namun demikian, Gunung Kelir menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih tergolong aman, selama pendaki mematuhi standar keselamatan yang direkomendasikan.

Perhutani KPH Banyumas Timur bersama kelompok masyarakat juga terus mendorong konsep ekowisata berkelanjutan di seputar Gunung Kelir. Ini meliputi pelatihan pemandu lokal, sosialisasi keselamatan bagi pendaki, serta penataan fasilitas penanda seperti papan informasi jalur serta titik istirahat. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan potensi wisata sambil tetap menjaga fungsi lingkungan yang menjadi daya tarik utama.

Dengan kombinasi alam yang memesona dan perhatian terhadap keselamatan serta keberlanjutan, Gunung Kelir dapat diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata alam unggulan di Purbalingga jika pengelolaan terus diperkuat. (Kom-PHT/Byt/Mei)

Sumber : kompasiana.com