PEKALONGAN TIMUR, PERHUTANI, (23/12/2025)│ Semangat nasionalisme dan pelestarian budaya mewarnai peringatan Hari Ibu ke-97 di lingkungan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur. Mengusung tema kebhinekaan, Ikatan Istri Karyawan (IIK) Perhutani menggelar aksi budaya dengan mengenakan beragam pakaian adat daerah dari seluruh penjuru Nusantara, Senin (22/12).
Kegiatan yang berlangsung meriah ini dihadiri langsung oleh Ketua IIK Perhutani KPH Pekalongan Timur Ibu Hani Meilani , didampingi oleh segenap pengurus dan anggota. Kehadiran para ibu dengan balutan kebaya, kain songket, hingga pakaian adat luar Jawa menciptakan suasana kantor yang penuh warna dan kental dengan nuansa tradisional.
Peringatan Hari Ibu kali ini sengaja dikemas berbeda. Selain sebagai ajang silaturahmi, penggunaan pakaian adat bertujuan untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda dan masyarakat luas, sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air (nasionalisme).
Administratur KPH Pekalongan Timur, Sugeng Bowo Leksono berharap IIK Perhutani KPH Pekalongan Timur mempunyai semangat nasionalisme, kebhinekaan, dan kecintaan terhadap budaya bangsa dapat terus tumbuh dan mengakar di lingkungan keluarga Perhutani. Diharapkan pula para ibu dapat terus berperan aktif sebagai teladan dalam menanamkan nilai moral, etika, dan pelestarian budaya kepada generasi penerus, sehingga tercipta sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan cinta tanah air, pungkasnya.
Ketua IIK Perhutani KPH Pekalongan Timur, Hani Meilani dalam sambutannya menekankan bahwa peran ibu dalam keluarga tidak hanya sebagai pendidik utama, tetapi juga sebagai penjaga moral dan budaya bangsa.
“Hari Ibu bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum bagi kami para istri karyawan Perhutani untuk merefleksikan kembali peran penting perempuan dalam pembangunan bangsa. Dengan mengenakan pakaian adat hari ini, kami ingin menunjukkan bahwa dibalik identitas kita yang modern, ada akar budaya yang kuat yang harus tetap kita jaga.”
“Melalui gelar budaya ini, kami ingin menumbuhkan kembali semangat nasionalisme. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan dari tangan ibulah pengenalan akan adat, etika, dan rasa cinta terhadap keberagaman Indonesia dimulai. Kami berharap kegiatan ini dapat menginspirasi lingkungan sekitar untuk terus bangga dengan jati diri bangsa.” Ucapnya.
Selain peragaan busana adat (fashion show), acara juga diisi dengan berbagai kegiatan internal yang mempererat solidaritas antar anggota IIK. Semangat kebersamaan ini diharapkan dapat mendukung performa para suami dalam menjalankan tugas menjaga kelestarian hutan di wilayah kerja KPH Pekalongan Timur.
Acara ditutup dengan pemberian apresiasi bagi peserta dengan busana adat paling autentik serta sesi foto bersama yang menunjukkan keragaman budaya Indonesia dalam satu bingkai kekeluargaan Perhutani. (Kom-PHT/Pkt/Ran).
Editor: Tri
Copyright © 2025