Jawa Pos – Kabupaten Purworejo sudah identik dengan kambing peranakan etawa (PE). Kambing super yang memiliki postur tubuh tinggi besar itu kini sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
KAMBING peranakan etawa (PE) didatangkan Belanda langsung dari Otawa (India). Kali pertama PE ditangkarkan di daerah Kaligesing, kambing PE merupakan perkawinan silang antara kambing otawa dan kambing lokal di daerah setempat.
Pada zaman Belanda, kambing PE di Kaligesing diternakkan untuk diambil susunya guna mencukupi kebutuhan gizi tentara Belanda di daerah perbukitan yang tidak memungkinkan memelihara sapi. ”Lepas masa kemerdekaan, performa dan penampilan kambing yang tinggi besar itu mulai bergeser, tidak lagi diambil susunya, tetapi menjadi hewan kelangenan,” ujar Bupati Purworejo Mahsun Zain kepada wartawan Radar Jogja (Jawa Pos Group).
Muncullah berbagai kontes kambing PE yang memperkuat nama klan atau keturunan kambing dari dataran Kaligesing tersebut. Dengan begitu, kambing PE di Jawa Timur (Trenggalek, Tulungagung, Jember) yang terkenal dan sering menang kontes dulu juga berasal Purworejo.
Kambing PE merupakan potensi daerah Kabupaten Purworejo. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kambing-kambing dengan kualitas terbaik tetap berada di Purworejo. Rangsangan dilakukan pemerintah dengan mengadakan lomba atau kontes kambing PE secara rutin, baik tingkat lokal, provinsi, maupun nasional.
Di Kabupaten Purworejo, populasi kambing PE 80 persen di Kaligesing. Dengan topografi wilayah perbukitan, ketersediaan pakan ternak sangat aman. Terlebih, telah terjalin hubungan baik dengan Perhutani dengan membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).
Warga dengan leluasa menanam rumput kaliandra (makanan pokok kambing PE) di lahan hutan milik Perhutani. Sebaliknya, pohon-pohon milik Perhutani aman karena warga juga menjaganya.
Berdasar data Dinas Pertani Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Purworejo, populasi kambing PE di Kaligesing pada 2014 sebanyak 54.644 ekor. Sementara itu, total di Kabupaten Purworejo sebanyak 76.030 ekor. Populasi kambing PE terus digenjot pemerintah daerah sehingga ada kenaikan rata-rata 4 persen setiap tahun.
”Karena Purworejo merupakan asal kambing PE dan permintaan dari luar daerah cukup tinggi, populasi harus dijaga. Kami juga mengimbau peternak agar tidak melepas kambing kelas A. Seandainya ada orang luar daerah butuh kambing kelas A di Purworejo, silakan betinanya dibawa ke sini, kawinkan di sini, dan bayar di sini,” terangnya.
Begitulah cara Pemkab Purworejo mendorong peternak untuk menjaga populasi kambing PE. Jasa mengawinkan kambing PE akhirnya lebih banyak daripada peternak melepas kambing kelas A dengan cukup sekali bayar. Tentu tidak semua peternak begitu karena ada juga yang kepepet membutuhkan uang untuk biaya sekolah anak misalnya, kemudian menjual kambing super.
”Memang kebijakan ini tidak saya masukkan dalam perda untuk menghindari kesan terlalu membatasi para peternak,” jelasnya. Namun, sosialisasi terus dilakukan agar peternak tidak menjual induk dan pejantan kualitas A.
Hingga saat ini, hampir semua rumah warga di Kaligesing memiliki kandang kambing dan membaur menjadi satu dalam kelompok ternak kambing PE. Mereka memelihara dengan jumlah bervariasi. Kualitasnya juga beragam. Satu peternak yang memiliki kambing kualitas A biasanya akan menjadi jujukan untuk dititis keturunannya. (tom/JPG/c7/tom)
Sumber : Jawa Pos, hal. 4
Tanggal : 3 Juli 2015