JAWAPOS.COM (07/03/2026) | Beri aku cinta yang mengalir di sungai-sungai gunung
Itulah sebaris indah dari puisi “Beri Aku,” karya Rusli Marzuki Saria. Air mengalir membawa cinta sampai jauh. Terjadi selama beratus tahun di punggung pulau Jawa. Namun, jika tak dirawat sebentar saja akan tiba bencana, seperti di Sumatera.
Kisah air di hutan Perhutani adalah nyanyian air yang menetes di sela akar dan bebatuan, lalu menjadi anak-anak sungai. Jatuh menimpa dedaunan, menyusup ke bawah akar, mengalir lagi dan berkecipak dalam dendang alam. Kayu-kayu di rimba berbisik sesamanya, menonton air kehidupan menunaikan tuhas kemanusiannya. Itulah tugas ribuan mata air di hutan Pulau Jawa.
Mata air itu ada di hutan yang bertengger di pundak Perum Perhutani. Mungkin tak sesiapa pun di pulau ini yang menjaga mata air sedemikian lama di hulunya, dalam hutan rimba Jawa, kecuali Perhutani. Data menunjukkan, setidaknya ada 2.931 mata air yang dijaga Perhutani atau hampir 3.000 banyaknya. Rinciannya Jateng 664 mata air, Jatim 1.324, dan Jabar 943 mata air.
Menara Air
Sedemikian banyaknya, makanya kemudian, hutan yang dikelola Perum Perhutani sering disebut sebagai “menara air Pulau Jawa.” Di kawasan hutan negara jutaan hektare itu tersimpan ribuan mata air. Ini menjadi sumber air bagi desa, kota, irigasi pertanian, hingga industri. Jumlah air di bumi sejak dulu sampai sekarang, tetap sebanyak itu. Tuhan mengaturnya meski kita sering lupa.
Menurut ilmu, vegetasi hutan berfungsi menjaga daya serap tanah sehingga air hujan meresap. Lalu, tersimpan sebagai air tanah. Ketika keluar lagi, kita menyebutnya mata air yang menghidupi masyarakat.
Bengawan Solo yang sudah jadi lagu itu, Brantas dan Citarum, adalah sungai-sungai besar di pulau padat penduduk ini. Hulunya dari kawasan hutan pegunungan yang sebagian dikelola Perhutani. Jika hulu sudah rusak, maka banjir bandang, membawa lumpur, kayu dan batu akan terjadi. Musibah seperti di Sumatera akan terjadi di Jawa.
Bencana Sumatera, sesayup mata memandang di luar nalar. Desa dan kota rata tertimbun lumpur setinggi tegak. Berbau, basah, liat dan padat. Entah ke mana badan akan dibawa. Derita panjang lebih panjang dari pulau itu.
Apa rakyat Pulau Jawa mau seperti itu pula? Apalagi hutan Jawa hanya 2,4 juta hektare. Diambil pula 1,1 juta hektare untuk yang disebut “hutan sosial.” Pemerintah lupa, ribuan mata air ada di situ.
Itulah sebabnya kelestarian hutan Perhutani tidak hanya soal kehutanan, tetapi juga menyangkut keberlanjutan air bagi penduduk Jawa. Mata air kehidupan Jawa ada di hulu. Jangan biarkan Perhutani sepi dalam hiruk-pikuk kehidupan.
Mata air di kawasan Perhutani, senantiasa dilindungi sebagai kawasan lindung atau sempadan mata air. Di sini dilarang menebang. Bahkan pada titik-titik tertentu dikelola bersama desa hutan, pemerintah daerah atau PDAM.
Melihat jumlah penduduk di Pulau Jawa yang 150 juta orang, mungkin perlu air 6,5 miliar meter kubik per tahun. Diperkirakan 66 miliar meter kubik air untuk pertanian dalam setahun. Kebutuhan lainnya tak terbilang. Lalu dari mana datangnya air sebanyak itu? Hutan rimba.
Masalahnya, hutan tangkapan air berkurang, mata air mengecip, sungai tercemar dan jumlah penduduk terus bertambah. Bendungan adalah salah satu jalan keluarnya. Dari zaman penjajahan bendungan du Jawa telah dibangun.
Jika benar, maka potensi air di Jawa 180 miliar meter kubik per tahun, setengahnya mengalir sampai ke laut, sisanya membantu kehidupan di darat. Dan, Jawa paling padat penduduknya, paling krisis air bermula dari tipisnya luas hutan. Hutan apapun tak sampai 5 juta hektare.
Air adalah kehidupan dan Perhutani tidak saja menjaga hutan, namun juga sekaligus sumber air. Dan, Rusli Marzuki Saria menulis:
//Beri aku pikiran kecil yang bisa dimengerti semua orang, sayang
Pikiran yang tidak ganda, tapi jujur tanpa apa-apa
Pikiran yang lahir di mata air lembah gunung
Pikiran yang dilahirkan satu ditambah satu hanya dua//
****
Sumber : jawapos.com