Papua ronaldBumi Papua tidak saja menyimpan kandungan logam mulia yang diburu banyak orang. Namun, di wilayah ini terdapat pula “emas hijau” atau sagu yang belum digarap dengan maksimal. Padahal, potensi yang bisa dihasilkan dari industrialisasi sagu ini sangat besar.

Sudah banyak cerita mengenai usaha dari negara dan swasta untuk mengembangkan sagu menjadi sebuah industri. Hanya saja, bisa dikatakan semua upaya tersebu gagal di tengah jalan. Bahkan, ada salah satu perusahaan swasta yang dulunya bergerak di industri rokok dan masuk ke agroindustri telah mengucurkan dana lebih dari Rp 400 miliar pun gagal menggarap sagu di Papua.

Namun, semua cerita kegagalan tersebut ternyata tidak berlaku bagi Perum Perhutani. BUMN di sektor kehutanan ini tinggal selangkah lagi menjadi perusahaan pertama yang mampu mengolah sagu dalam skala besar di Indonesia. Bila tidak ada aral melintang, pada Maret 2015 pabrik Sagu Perhutani akan beroperasi. Nah, apa sebab yang lain gagal sedangkan Perhutani sukses?

“Kalau sekadar membuat pabrik secara fisik, saya kira semua perusahaan pasti mampu asal memiliki modal. Hanya saja, di Papua modal bukanlah segalanya. Kemampuan untuk merangkul masyarakatlah yang menjadi kunci utama pembangunan pabrik bisa berjalan lancar, bahkan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat adat di Papua. Dan, Perhutani sudah berpengalaman puluhan tahun dalam memahami kultur masyarakat desa hutan,” kata Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perum Perhutani.

Bambang menambahkan, setelah mendapat penugasan dari pemerintah untuk membuat pabrik sagu pada tahun 2012, langkah kunci yang dilakukan adalah pendekatan ke masyarakat di sekitar lokasi yang akan dibangun pabrik. Hal yang tidak dilakukan oleh pemain lain yang mencoba membangun pabrik sagu. Kalaupun pemain lain melakukan pendekatan ke masyarakat, modelnya adalah “pendekatan uang” yang tentunya tidak sehat, baik untuk perusahaan itu sendiri dan mental masyarakat setempat.

“Langkah terpenting dalam pembangunan pabrik ini adalah membuat bangunan sosial dulu. Bukan bangunan fisik sebuah pabrik. Kami meyakinkan ke masyarakat bahwa kami datang bukan untuk mengeksploitasi kekayaan Papua. Tapi, Perhutani datang untuk bekerjasama dengan masyarakat membangun Papua,” timpal Ronald Guido Suitela, General Manager Wilayah Papua-Perum Perhutani.

Bangunan sosial itu diwujudkan dengan membuat Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Distrik Kais, Sorong Selatan dengan nama LMDH Bosiro. Ini merupakan LMDH pertama yang ada di luar Pulau Jawa. Sebagai masukan, di Jawa terdapat sekitar 5.600 desa hutan dan Perhutani sudah membangun 5.000 LMDH.

LMDH ini merupakan wadah bagi masyarakat setempat untuk terlibat dalam pengelolaan hutan sagu milik masing-masing yang akan berinteraksi dengan pabrik. Lembaga ini menjadi mitra Perhutani dalam penentuan pola kerja, harga jual sagu, pengaturan tenaga kerja, dan hal lain yang terkait dengan pengelolaan sagu alam yang ada di tanah ulayat.

Alhasil, masyarakat setempat sepakat bulat mendukung Perhutani dalam membangun pabrik sagu. Bahkan, ada warga yang merelakan tanahnya untuk dijadikan lahan pabrik. Selain LMDH, yang membuat pembangunan ini lancar adalah komitmen Perhutani dalam membantu masyarakat setempat di berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga kesehatan.

“Kami bukan mesin ATM bagi masyarakat. Tapi, kami mengajak masyarakat bekerjasama untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bila pabrik sagu ini nantinya terus berkembang, masyakarat sekitar pun akan memperoleh manfaatnya,” kata Ronald.

Sumber : www.the-marketeers.com/
Tangga : 4 September 2014