BONDOWOSO, PERHUTANI (20/11/2025) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bondowoso melaksanakan sosialisasi kerjasama agroforestry kepada anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gunung Hijau di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso. Kegiatan yang digelar di rumah Ketua LMDH Gunung Hijau tersebut berlangsung pada Rabu (19/11).

Sosialisasi ini berfokus pada pengembangan tanaman kopi di bawah tegakan Rimba Campur (RBC) serta uji coba penanaman alpukat varietas Hass sebagai tanaman pengisi. Varietas alpukat asal Meksiko ini dinilai potensial dikembangkan di wilayah Bondowoso yang memiliki karakter dataran tinggi di atas 1.000 mdpl. Kecamatan Sempol, yang berada pada ketinggian sekitar 1.460 mdpl, dianggap sangat ideal untuk pengembangan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi tersebut.

Alpukat Hass memiliki cita rasa gurih sedikit manis, bertekstur creamy, dengan kulit buah yang kasar dan berubah warna menjadi cokelat kehitaman saat matang. Keunggulan lainnya adalah daging buah yang padat dan tahan benturan, sehingga banyak diminati pasar internasional karena mampu bertahan selama proses distribusi. Diharapkan varietas ini dapat menjadi komoditas alternatif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar hutan.

Kegiatan sosialisasi dihadiri Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, didampingi Wakil Administratur Bondowoso Selatan, Anton Sujarwo Kepala Seksi Pengelolaan Sumberdaya Hutan (PSDH), Rahmat Sugiarto, Asisten Perhutani (Asper) Sukosari, Darman, serta perwakilan Polres Bondowoso. Ketua LMDH Gunung Hijau, Dihajir, turut hadir bersama seluruh anggota.

Dalam sambutannya, Administratur Perhutani KPH Bondowoso, Misbakhul Munir, menyampaikan bahwa pengembangan alpukat Hass merupakan langkah strategis dalam diversifikasi usaha produktif masyarakat yang selama ini dikenal dengan komoditas kopi unggulannya. Ia menegaskan bahwa wilayah Bondowoso memiliki potensi besar untuk pengembangan komoditas hortikultura berorientasi ekspor.

“Selain Kopi Bondowoso yang sudah diakui dunia, Perhutani ingin menghadirkan terobosan baru melalui penanaman alpukat varietas Hass. Varietas ini memiliki nilai jual tinggi dan sangat diminati pasar ekspor. Semoga pengembangan ini dapat mendongkrak perekonomian masyarakat Sempol yang hidup di wilayah pegunungan 1.460 mdpl,” ujar Munir. Ia menambahkan bahwa keterlibatan aktif LMDH menjadi kunci keberhasilan program agroforestry berbasis pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Ketua LMDH Gunung Hijau, Dihajir, menekankan pentingnya rasa syukur atas potensi alam yang diberikan Tuhan. Ia menyampaikan bahwa menjaga kelestarian hutan merupakan bentuk syukur sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan melalui pengelolaan agroforestry.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Perhutani atas pendampingan dan bimbingan yang terus diberikan. Semoga kerjasama ini terus berjalan dan memberi manfaat bagi seluruh anggota LMDH Gunung Hijau,” ujarnya.

Selain penyampaian materi teknis budidaya, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah wathoniah atau persaudaraan kebangsaan antara masyarakat, aparat, dan jajaran Perhutani. Melalui dialog terbuka, seluruh pihak diharapkan semakin solid dalam mendukung pengelolaan hutan yang tertib, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Dengan sinergi yang kuat antara Perhutani, LMDH, aparat keamanan, dan masyarakat, program agroforestry di Bondowoso diharapkan mampu memberikan manfaat ganda: menjaga kelestarian ekosistem hutan sekaligus meningkatkan pendapatan dan peluang usaha masyarakat desa hutan.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mendukung visi Perhutani untuk mewujudkan hutan lestari dan masyarakat sejahtera melalui pengelolaan sumber daya hutan yang modern, kolaboratif, dan berkelanjutan. (Kom-PHT/Bdw/Mam)