BANYUMAS BARAT, PERHUTANI (20/04/2026)| Perum Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian ekosistem pesisir. Hal ini, dibuktikan melalui pemberian pendampingan teknis kepada mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), yang tengah melaksanakan praktik penelitian di kawasan Wana Wisata Hutan Payau Tritih, Cilacap.
Kegiatan penelitian yang berfokus pada ekosistem hutan mangrove ini, menjadi jembatan penting antara teori akademik dan implementasi lapangan. Dalam pelaksanaannya, Perhutani, memastikan para mahasiswa memperoleh data yang akurat serta pemahaman mendalam mengenai tata kelola hutan payau yang berkelanjutan.
Administratur, KPH Banyumas Barat, Yohanes Eka Cahyadi, memberikan perhatian penuh terhadap kolaborasi pendidikan ini. Meski berhalangan hadir secara langsung, kegiatan tersebut diwakili oleh Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Rawa Timur, Kusnadi. Turut hadir mendampingi di lapangan, Kepala Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tritih, Warman.
Dalam arahannya, Kepala BKPH Rawa Timur, Kusnadi, menyampaikan bahwa Perhutani, sangat terbuka bagi kalangan akademisi yang ingin mengkaji kekayaan hayati di wilayah kerjanya.
“Hutan Payau Tritih, bukan sekadar objek wisata, melainkan laboratorium alam yang sangat kaya. Kami mendampingi adik-adik mahasiswa agar penelitian mereka tidak hanya memenuhi tugas akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi nyata bagi pelestarian mangrove di masa depan,” ujarnya.
Rombongan mahasiswa Unsoed, yang terjun langsung dalam penelitian ini terdiri atas Fauzan Putra, Adityawarman, Wulandari, Diah Pertiwi, dan Mahardika. Sebagai calon ahli di bidang kelautan, mereka melakukan observasi mendalam mengenai pertumbuhan vegetasi mangrove, kualitas air, serta pengaruh ekosistem hutan terhadap biota laut di sekitarnya.
Perwakilan mahasiswa, Fauzan Putra, mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan dan bimbingan dari jajaran Perhutani. Menurutnya, akses data dan pendampingan di lapangan sangat membantu dalam memetakan kondisi riil hutan mangrove.
“Dukungan dari Pak Kusnadi, dan Pak Warman, sangat krusial bagi kami. Kami belajar banyak tentang bagaimana mengelola konflik kepentingan antara pariwisata dan konservasi,” tuturnya.
Wana Wisata Hutan Payau Tritih, merupakan salah satu paru-paru hijau penting di wilayah Cilacap. Kawasan ini, berfungsi sebagai benteng alami dari abrasi serta menjadi habitat bagi berbagai jenis burung dan fauna air. Melalui praktik penelitian ini, diharapkan muncul inovasi baru dalam teknik rehabilitasi mangrove maupun pemanfaatan potensi jasa lingkungan yang lebih optimal.
Kepala RPH Tritih, Warman, menambahkan bahwa edukasi kepada generasi muda merupakan kunci keberlanjutan.
“Kami berharap mahasiswa, tidak hanya mengambil data, tetapi juga menjadi duta lingkungan yang menyebarkan pentingnya menjaga hutan payau kepada masyarakat luas,” tambahnya.
Kegiatan pendampingan ini, diakhiri dengan diskusi interaktif antara mahasiswa dan petugas lapangan Perhutani. Kolaborasi antara praktisi kehutanan dan institusi pendidikan seperti Unsoed, diharapkan dapat terus berlanjut. Hasil penelitian ini nantinya diharapkan menjadi literatur tambahan bagi Perhutani, dalam menyusun rencana pengelolaan kelautan dan kehutanan yang lebih inklusif dan berbasis data ilmiah.
Dengan adanya sinergi ini, Wana Wisata Hutan Payau Tritih, diharapkan tetap lestari sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi edukasi unggulan di Jawa Tengah. (Kom-PHT/Byb/Twn).
Editor: Tri
Copyright © 2026