BANYUWANGI BARAT, PERHUTANI (17/03/2026) | Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat hadiri Upacara Melasti Tahun Baru Saka 1948 yang diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Songgon untuk umat Hindu yang berada di lereng Raung dan sekitarnya meliputi Lima Kecamatan (Songgon, Sempu, Genteng, Glenmore dan Kalibaru) di Wana Wisata Rowo Bayu Petak 8g RPH Bayu BKPH Rogojampi, pada Minggu (15/03).
Administratur KPH Banyuwangi Barat yang diwakili Kasubsi Hukum Kepatuhan, Eko Hadi memberikan apresiasi kepada PHDI yang telah menyelenggarakan kegiata Melasti tahun ini yang diselenggarakan di dalam kawasan hutan diwilayah kerjanya.
“Kehadiran Perhutani ini sebagai bentuk dukungan kepada multi stake holder dalam hal ini umat Hindu di Kabupaten Banyuwangi dalam kegiatan keagamaan, tentunya dalam bingkai toleransi untuk mewujudkan harmoni antar umat beragama,” kata Eko.
“Hal ini selaras dengan Implementasi Tata Nilai AKHLAK Perhutani Group yaitu Harmonis dengan menghargai setiap orang apapun latar belakangnya dan peduli kepada masyarakat serta lingkungan,” pungkasnya.
Atim selaku Ketua PHDI Songgon menjelaskan bahwa Melasti adalah upacara penyucian diri dan benda sakral (pratima/pralingga) umat Hindu yang dilakukan di sumber air suci seperti laut atau danau menjelang Hari Raya Nyepi.
“Ritual ini bertujuan membersihkan diri dari karma buruk (kekotoran lahir batin) dan memohon tirta amerta (air kehidupan) untuk kesejahteraan alam, yang mempunyai makna dari kata lasti (menuju air), bertujuan melepaskan beban penderitaan masyarakat dan membuang penyakit sosial/perilaku buruk serta sebagai bentuk pemurnian diri dan lingkungan (letuhing bhuwana) sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” tutur Atim.
“Upacara Melasti merupakan pembersihan bhuwana agung (makromokosmos) atau jagat raya, baik dari diri sendiri atau alam semesta, juga bertujuan untuk mencari air kehidupan guna menyucikan diri dan menyingkirkan sifat buruk,” ungkapnya.
AKP Pudji Wahyono, Kapolsek Songgon, dalam sambutannya mengajak semua pihak yang hadir untuk saling menghormati dalam indahnya keberagaman agama sebagai bentuk persatuan dalam kebinekaan.
“Mari jadikan upacara Melasti Tahun Baru Saka 1948 sebagai momentum persatuan dan kesatuan umat beragama yang merupakan wujud nyata harmoni, toleransi, dan gotong royong, di mana prosesi penyucian diri (nyomia) Hindu ini sering melibatkan keterlibatan masyarakat lintas agama,” tegas Kapolsek Songgon.
“Melasti memperkuat kerukunan dengan menanamkan nilai kerendahan hati, menghanyutkan penyakit sosial (egoisme/permusuhan), serta menjaga alam lingkungan bersama,” pungkasnya. (Kom-PHT/BWB/eko).