GUNDIH, PERHUTANI (04/06/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih bersama Pabrik Gula (PG) Madukismo PT Madubaru, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melaksanakan survei lapangan di areal budidaya Agroforestri Tebu Mandiri (ATM). Kegiatan ini dilakukan untuk memetakan kesiapan panen tebu masa tanam 2025/2026 di kawasan hutan.

Survei berkala tersebut difokuskan pada dua wilayah, yakni Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Monggot dan BKPH Panunggalan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Selasa (03/06).

Pemantauan dilakukan secara menyeluruh menggunakan dua metode. Pertama, pengambilan sampel batang tebu untuk menguji kadar kemanisan (brix) guna mengukur tingkat kematangan tebu yang siap digiling. Kedua, pemanfaatan teknologi pemotretan udara menggunakan drone untuk memetakan luasan serta zonasi lahan secara presisi.

Data lapangan yang dihimpun akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Tebang Muat Angkut (TMA). Melalui rencana tersebut, prioritas penebangan akan diatur berdasarkan usia tanaman, tingkat kematangan tebu, serta aksesibilitas armada pengangkut di dalam kawasan hutan.

Administratur KPH Gundih melalui Kepala Sub Seksi Agroforestri dan Ekowisata, Al Ustad, menegaskan komitmen Perhutani dalam mendukung swasembada pangan, khususnya pemenuhan bahan baku gula nasional.

“Pengembangan tebu mandiri di kawasan hutan KPH Gundih telah diinisiasi sejak tahun 2022. Hingga tahun 2025, pemanfaatan lahan untuk komoditas ini telah mencapai 66,31 hektare. Survei ini sangat penting agar rantai pasok dari hulu hingga hilir, mulai dari penebangan hingga pengangkutan ke pabrik, dapat berjalan efektif dan efisien,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan manajemen PG Madukismo PT Madubaru, Tri Priyono, yang menjabat sebagai Sinder Tebang, mengapresiasi fasilitasi dan pendampingan yang diberikan oleh jajaran Perhutani selama proses verifikasi data lapangan.

“Sinergi ini memastikan data yang dibutuhkan untuk proses produksi pabrik dapat diperoleh secara akurat. Kami berharap kolaborasi hulu dan hilir ini dapat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi gula nasional yang saat ini terus didorong oleh pemerintah,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Monggot, Ageng Purnama, Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Panunggalan, Jony Arianto, serta tim teknis dari PG Madukismo.

Melalui pemanfaatan data berbasis teknologi udara dan hasil pengujian laboratorium tersebut, manajemen TMA diharapkan mampu meminimalkan risiko penyusutan tonase maupun penurunan kadar rendemen saat tebu didistribusikan ke pabrik gula. Langkah strategis ini sekaligus menjadi contoh optimalisasi pemanfaatan lahan hutan melalui program agroforestri yang bernilai ekonomi tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan. (Kom-PHT/Gdh/Dwi)

Editor: Tri

Copyright © 2026