KEDU UTARA, PERHUTANI (22/04/2026) | Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, kembali menunjukkan komitmennya dalam menghormati kearifan lokal dengan menjunjung tinggi nilai budaya masyarakat desa melalui dukungan dan partisipasi dalam kegiatan slametan tebangan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di petak hutan wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Candiroto, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Candiroto, yang masuk wilayah Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, pada Senin, (20/04).

Slametan tebangan, merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat sekitar hutan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar kegiatan tebangan dapat berjalan lancar, aman, dan membawa manfaat bagi semua pihak. Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh masyarakat setempat, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama antara jajaran Perhutani, pemerintah desa, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), serta warga sekitar.

Suasana kebersamaan terlihat hangat saat seluruh peserta duduk bersama tanpa sekat dan menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan warga. Kehadiran Perhutani, dalam kegiatan tersebut menjadi simbol eratnya hubungan antara pengelola hutan dan masyarakat desa yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan hutan.

Administratur, KPH Kedu Utara, Andrie Syailendra, menyampaikan bahwa Perhutani, tidak hanya berfokus pada pengelolaan hutan secara teknis, tetapi juga berupaya menjaga nilai sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat sekitar kawasan hutan.

“Perhutani, selalu menghormati kearifan lokal yang tumbuh di masyarakat. Tradisi slametan tebangan ini adalah bagian dari budaya yang harus dijaga bersama karena mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, dan harapan agar seluruh kegiatan berjalan dengan lancar,” ujar Andrie Syailendra.

Ia, menambahkan bahwa keberhasilan pengelolaan hutan tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi, tetapi juga dari harmonisasi hubungan antara Perhutani dan masyarakat sekitar hutan.

“Perhutani, percaya bahwa kelestarian hutan dapat terwujud apabila pengelolaannya berjalan seiring dengan penghormatan terhadap adat dan budaya masyarakat setempat,” tambahnya.

Kepala Desa Bejen, Sugeng Widodo, mengapresiasi kehadiran Perhutani, dalam kegiatan adat desa tersebut. Menurutnya, dukungan Perhutani, menjadi bukti nyata bahwa hubungan antara masyarakat desa dan Perhutani terus terjalin dengan baik.

“Kami merasa bangga karena Perhutani, selalu hadir dan ikut menghormati tradisi masyarakat desa. Ini menunjukkan bahwa Perhutani, tidak hanya mengelola hutan, tetapi juga menjaga nilai budaya yang ada di tengah masyarakat,” kata Sugeng Widodo.

Sementara itu, Ketua LMDH Wana Lestari, Miswani, menilai kegiatan ini menjadi sarana mempererat komunikasi dan kebersamaan antara masyarakat dan Perhutani, dalam menjaga kawasan hutan.

“Tradisi slametan tebangan, bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga menjadi pengingat bahwa hutan harus dikelola dengan rasa hormat dan kebersamaan. Kami berharap sinergi ini terus terjaga,” ungkap Miswani.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan slametan tebangan tersebut, Perhutani, KPH Kedu Utara, menegaskan bahwa pengelolaan hutan tidak semata soal produksi kayu, tetapi juga tentang menjaga hubungan sosial, melestarikan budaya lokal, dan membangun kebersamaan dengan masyarakat desa demi terciptanya pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan. (Kom-PHT/Kdu/Nurul)

Editor: Tri

Copyright © 2026