Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya menggali potensi pengembangan kopi hutan sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat sekitar agar mampu meningkatkan nilai ekonomi dari hasil pengelolaan lahan di bawah tegakan.
Pendampingan yang dilakukan Perhutani, bersama mahasiswa difokuskan pada peningkatan kapasitas kelompok tani hutan dalam pengelolaan budidaya kopi, mulai dari teknik pemeliharaan tanaman, penanganan pascapanen, hingga penguatan kelembagaan kelompok agar mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan. Program ini, diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa hutan, khususnya anggota LMDH Sido Mulyo, yang selama ini menggantungkan sebagian penghasilannya dari sektor agroforestry.
Administratur, KPH Kedu Utara, melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Candiroto, Joko Supriyanto, menyampaikan bahwa sinergi antara Perhutani, perguruan tinggi, dan masyarakat merupakan langkah positif dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa sekitar hutan.
“Perhutani, menyambut baik keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat desa hutan. Kehadiran mahasiswa ini membawa semangat baru bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi agroforestry kopi, agar memiliki nilai tambah yang lebih baik. Perhutani, berharap kolaborasi ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan,” ujarnya.
Ketua LMDH Sido Mulyo, Achmad Nurjanah, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan Perhutani, bersama mahasiswa MBKM, karena memberikan manfaat langsung kepada masyarakat desa hutan.
“Kami merasa terbantu dengan adanya pendampingan ini karena masyarakat mendapat pengetahuan baru mengenai cara budidaya dan pengolahan kopi, yang lebih baik. Harapan kami, kopi dari Desa Kebondalem, nantinya bisa semakin dikenal dan memberi tambahan penghasilan bagi anggota LMDH,” ungkapnya.
Perwakilan mahasiswa MBKM, Universitas Gadjah, Mada Faiza Nabila, mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa, dalam memahami kondisi masyarakat desa hutan secara langsung sekaligus menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.
“Melalui kegiatan ini, kami belajar bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya soal teori, tetapi bagaimana membangun komunikasi dan kerja sama dengan warga agar potensi lokal seperti kopi dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan. Kami berharap program ini bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain memberikan pendampingan teknis, mahasiswa MBKM, juga melakukan identifikasi potensi usaha berbasis kopi, yang dapat dikembangkan oleh masyarakat, seperti pengolahan kopi bubuk, pemasaran digital, hingga pengemasan produk agar lebih menarik di pasaran. Upaya ini, menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa, dalam menerapkan ilmu di lapangan sekaligus membantu masyarakat dalam pengembangan usaha produktif.
Program kolaboratif, tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada aspek kelestarian lingkungan, tetapi juga harus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, Perhutani, optimistis pengembangan agroforestry kopi, di Desa Kebondalem, dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat desa hutan yang berhasil dan berkelanjutan. (Kom-PHT/Kdu/Nurul)