PEKALONGAN TIMUR,PERHUTANI (20/01/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur, menyimpan banyak kisah inspiratif dari para pengelola hutan di tingkat tapak. Salah satunya datang dari Subehi, seorang perejang atau penyadap getah pinus yang tekun mengelola Petak 52D, di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Majalangu, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal.

Dengan luas petak sadapan mencapai 2,00 hektare, yang ditumbuhi sekitar 850 batang pohon pinus, Subehi, tidak sekadar menjalankan rutinitas harian.

Ia, mengelola sumber penghidupannya dengan penuh tanggung jawab dan perhitungan yang cermat. Setiap torehan pisau sadap dilakukan secara terukur, tidak hanya untuk mengalirkan getah, tetapi juga untuk menjaga kesehatan dan kelestarian pohon agar tetap produktif dalam jangka panjang.

Target produksi yang dibebankan pada petak kelolaannya mencapai 1.430 kilogram, getah per tahun. Angka tersebut menuntut konsistensi, penerapan metode kerja yang benar, serta kesabaran dalam setiap tahapan proses penyadapan. Melalui ketekunan dan disiplin, Subehi, membuktikan bahwa target produksi bukan sekadar angka, melainkan capaian yang dapat diraih, bahkan kerap dilampaui.

Atas kerja keras, kedisiplinan, dan komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian hutan, Subehi memperoleh apresiasi dari manajemen Perhutani KPH Pekalongan Timur. Dedikasinya menjadi contoh nyata sinergi positif antara pengelola hutan dan masyarakat, di mana pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dapat berjalan seiring dengan prinsip konservasi.

Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Randudongkal, Eko Pranoto, menyampaikan apresiasi atas kinerja Subehi.

Ia, menilai Subehi sebagai sosok penyadap yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian hutan.

“Bapak Subehi adalah aset bagi kami. Beliau merupakan contoh penyadap yang memiliki pola pikir kelestarian. Teknik sadapnya tertib, pencatatan produksinya rapi, dan yang paling utama adalah komitmennya dalam merawat pohon pinus. Prestasi beliau yang mampu memenuhi, bahkan melampaui target produksi menjadi bukti bahwa pengelolaan yang baik akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Kami berharap kisah ini dapat menginspirasi penyadap lain di wilayah BKPH Randudongkal,” ujarnya.

Bagi Subehi, kegiatan menyadap getah pinus bukan semata-mata mata pencaharian, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap alam. “Saya merawat pohon-pohon ini seperti merawat anak sendiri. Kalau kita jaga dengan baik, pohonnya sehat, getahnya lancar, dan penghidupan kita juga terjamin. Saya bersyukur bisa berkontribusi dan mendapat apresiasi dari Perhutani,” tuturnya.

Kisah Subehi, dari Petak 52D, tersebut menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan yang berkelanjutan berawal dari dedikasi individu di lapangan. Melalui apresiasi ini, Perhutani KPH Pekalongan Timur, berharap semangat dan keteladanan Subehi dapat memotivasi para penyadap lainnya untuk terus bekerja secara profesional demi kesejahteraan bersama dan kelestarian hutan bagi generasi mendatang. (Kom-PHT/Pkt/Ran)

Editor: Tri

Copyright © 2026