PURWODADI, PERHUTANI (08/02/2026) | Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev), tebangan kayu jati di Petak 14D, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Peting, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangasem, pada Kamis, (05/02). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan kelancaran serta transparansi proses produksi kayu.
Pengawasan tersebut dilaksanakan sebagai langkah pengendalian agar proses tebangan berjalan sesuai prosedur, tertib administrasi, serta terhindar dari potensi penyimpangan maupun kecurangan di lapangan. Selain itu, monitoring ini menjadi bagian dari komitmen Perhutani, dalam menjaga tata kelola produksi yang berkelanjutan dan mendukung kelestarian hutan.
Petak 14D, seluas 13,5 hektare, merupakan salah satu petak produksi tebangan kayu jati KPH Purwodadi, tahun 2026, dengan target produksi sebesar 499,248 meter kubik (m³).
Administratur, KPH Purwodadi, melalui Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata, Yunasri, menyampaikan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi ini penting untuk memastikan seluruh proses tebangan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Monitoring dan evaluasi ini merupakan bentuk pengawasan Perhutani, agar proses tebangan kayu jati dapat berjalan sebagaimana mestinya, sesuai rencana produksi, dan dilakukan secara transparan tanpa adanya kecurangan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan melalui pengelolaan yang terukur dan berkelanjutan,” ujarnya.
Penguji Tingkat I, KPH Purwodadi, Suharyoto, menegaskan bahwa kegiatan pengawasan ini juga bertujuan memastikan kualitas hasil tebangan serta kesesuaian teknis di lapangan.
“Kami melakukan pengecekan langsung terhadap pelaksanaan tebangan, mulai dari kesesuaian pohon yang ditebang, penataan kayu, hingga pencatatan hasil produksi. Hal ini penting agar produksi kayu dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi dan sesuai standar pengelolaan hutan lestari,” jelasnya.
Kegiatan monitoring ini turut melibatkan dukungan masyarakat sekitar hutan melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Ketua LMDH Wana Tirta, Dwi Raharto, menyampaikan bahwa pihaknya berperan aktif membantu kelancaran proses tebangan di lapangan.
“Kami dari LMDH Wana Tirta, mendukung penuh kegiatan tebangan ini. Keterlibatan masyarakat menjadi bentuk sinergi bersama Perhutani, agar proses tebangan berjalan terbuka, lancar, dan tetap menjaga kelestarian kawasan hutan yang menjadi sumber kehidupan bersama,” ungkapnya.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, Perhutani, KPH Purwodadi, berharap proses produksi kayu jati tahun 2026, dapat berjalan optimal, transparan, serta tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. (Komp-PHT/Pwd/Aris).
Editor: Tri
Copyright © 2026