PURWODADI, PERHUTANI (18/01/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, melalui Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sambirejo, melaksanakan kegiatan bancaan pada petak tanaman jati teres Petak 79 A-1, wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Siwalan, seluas 9,4 hektare, yang berada di Desa Gedangan, pada Sabtu (17/01).

Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran Perhutani BKPH Sambirejo, pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Makmur, Desa Gedangan, serta sejumlah pesanggem yang selama ini menggarap lahan di kawasan hutan setempat.

Kegiatan bancaan merupakan tradisi budaya masyarakat sekitar hutan yang telah lama dilestarikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur serta doa bersama sebelum pelaksanaan kegiatan tebangan pohon jati. Tradisi ini juga menjadi simbol harmonisasi hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus memperkuat ikatan sosial antara Perhutani dan masyarakat desa hutan.

Petak 79 A-1, merupakan tanaman jati teres rencana tebangan tahun 2028, yaitu tegakan jati yang telah memasuki fase akhir daur produksi dan siap dipanen. Jati teres, dikenal sebagai jati berkualitas tinggi karena telah melalui proses pertumbuhan optimal, memiliki batang lurus, berdiameter besar, serta kadar kayu matang yang siap dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kayu bernilai ekonomi tinggi.

Sebelum pelaksanaan tebangan, Perhutani, terlebih dahulu melakukan sejumlah tahapan perlakuan teknis, antara lain inventarisasi tegakan, penandaan pohon tebang, pengukuran volume kayu, pembuatan jalur evakuasi kayu, serta sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Tahapan tersebut bertujuan memastikan kegiatan pemanenan berjalan tertib, aman, serta tetap memperhatikan aspek kelestarian hutan dan lingkungan.

Administratur KPH Purwodadi, melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sambirejo, Susilo, menyampaikan bahwa kegiatan bancaan merupakan bagian penting dari pendekatan sosial Perhutani, kepada masyarakat desa hutan.

“Kegiatan bancaan ini, bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi wujud penghormatan terhadap alam sekaligus bentuk kebersamaan antara Perhutani, dan masyarakat desa hutan. Selain itu, kegiatan ini menjadi awal yang baik sebelum pelaksanaan tebangan jati teres, agar seluruh proses dapat berjalan lancar, aman, dan tetap mengedepankan prinsip kelestarian hutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua LMDH Wana Makmur, Desa Gedangan, Sudar, menyampaikan apresiasinya atas keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pengelolaan hutan.

“Kami masyarakat desa hutan merasa dilibatkan dan dihargai. Tradisi bancaan ini merupakan warisan budaya yang terus kami jaga, sekaligus menjadi doa agar hasil tebangan membawa manfaat bagi semua pihak serta tetap menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh salah satu pesanggem asal Desa Gedangan, Paidi, yang selama ini turut menggarap lahan di kawasan hutan.

“Kami bersyukur dapat ikut serta dalam kegiatan ini. Bancaan, menjadi pengingat bahwa hutan bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga titipan yang harus dijaga bersama. Semoga kegiatan tebangan nantinya berjalan lancar dan membawa berkah bagi masyarakat,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, Perhutani, menegaskan komitmennya untuk mengelola hutan secara profesional, lestari, dan berbasis kearifan lokal sehingga manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dapat dirasakan bersama oleh seluruh pemangku kepentingan. (Komp-PHT/Pwd/Aris).

Editor: Tri

Copyright © 2026