SEMARANG, PERHUTANI (03/02/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Semarang bergerak cepat merespons kejadian bencana alam tanah longsor yang terjadi di Petak 1011 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Susukan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penggaron, KPH Semarang. Secara administratif, lokasi kejadian berada di Desa Susukan, Kabupaten Semarang, Selasa (3/2) sore.

Tanah longsor terjadi sekitar pukul 17.15 WIB akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Material longsoran menutup badan jalan di wilayah Kelurahan Susukan RT 06 RW 05, Kecamatan Ungaran Timur, sehingga akses jalan terputus sementara.

Setelah menerima laporan dari warga setempat, Kepala BKPH Penggaron Musholeh bersama jajaran segera melakukan pengecekan ke lokasi kejadian untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan. Langkah cepat tersebut merupakan bentuk kesiapsiagaan Perhutani dalam menjaga kawasan hutan serta menjamin keselamatan masyarakat sekitar.

Admininistratur KPH Semarang melalui Kepala BKPH Penggaron Musholeh langsung berkoordinasi dengan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) yang melibatkan Pemerintah Kelurahan Susukan, Kepolisian Subsektor Ungaran Timur, Komando Rayon Militer setempat, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang guna mempercepat penanganan di lokasi kejadian.

Ia menyampaikan bahwa dalam peristiwa tersebut tidak terdapat korban jiwa maupun kerugian materiil. Namun demikian, Perhutani tetap mengedepankan respons cepat agar akses jalan dapat segera dibuka kembali dan aktivitas masyarakat tidak terganggu.

Penanganan kejadian melibatkan Perhutani BKPH Penggaron dan KPH Semarang selaku pemangku wilayah kawasan hutan RPH Susukan, dengan dukungan Pemerintah Kelurahan Susukan, Kepolisian Subsektor Ungaran Timur, Komando Rayon Militer, serta BPBD Kabupaten Semarang. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan berhati-hati saat melintas di sekitar lokasi, serta segera melaporkan apabila terdapat tanda-tanda pergerakan tanah atau potensi bencana lainnya.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Tukiman  menyampaikan harapannya agar sinergi antara Perum Perhutani, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dapat terus ditingkatkan, khususnya dalam menghadapi potensi bencana alam di wilayah sekitar hutan. Ia menilai langkah cepat dan koordinasi yang dilakukan para pihak merupakan bentuk kehadiran negara dalam melindungi masyarakat desa hutan.

Ia berharap ke depan upaya pencegahan dapat semakin diperkuat melalui kegiatan pemeliharaan kawasan, peningkatan kewaspadaan saat musim hujan, serta edukasi kepada masyarakat desa hutan agar lebih tanggap terhadap tanda-tanda bencana. Dengan kerja sama yang baik, ia optimistis keamanan lingkungan hutan dan keselamatan masyarakat dapat terus terjaga secara berkelanjutan. (Kom-PHT/Smg/Noe)

Editor: Tri
Copyright © 2026