MOJOKERTO, PERHUTANI (12/08/2025) | Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan seluruh personel dan sarana prasarana, yang mencakup sumber daya manusia, peralatan, serta dukungan logistik, guna menghadapi potensi bencana kebakaran Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mojokerto Apel Siaga dan Pelatihan Penanggulangan Karhutla Bersama BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Lamongan, Apel Siaga tersebut dilaksanakan di petak 57 RPH Kedungwangi, BKPH Mantup, pada selasa (12/08).
Kegiatan Apel tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KPH Mojokerto, Rusydi, jajaran Perhutani Mojokerto hadir Waka Administratur Mojokerto Timur, Nana Suwanda, beserta Asper dan KRPH wilayah KPH Mojokerto, dari BPBD Lamongan hadir Sekretaris BPBD Kabupaten Lamongan, Gunawan, beserta jajaran, hadir pula Forkopimca Sambeng, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Bojonegoro, Widodo Joko Santoso, Dinas Kesehatan Lamongan, Satpol PP Lamongan, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan.
Selaku pembina apel Kepala KPH Mojokerto, Rusydi, dalam sambutannya “Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga perlu upaya bersama dalam menjaga dan mempertahankan kelestarian hutan dari berbagai penyebab kerusakan hutan, salah satu penyebab rusaknya hutan adalah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena dapat menimbulkan kerugian, bukan saja dari segi ekonomi, namun juga secara ekologi dan sosial. Kegiatan ini merupakan wujud komitmen Perhutani dalam penanggulangan Karhutla, sejalan dengan Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, yang diantarannya melakukan upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan, dalam menghadapi Karhutla, yang perlu langkah-langkah nyata dengan melibatkan berbagai pihak, sehingga tercipta kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh petugas dan masyarakat dalam menghadapi Karhutla,” sambutnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kabupaten Lamongan, Gunawan, menyampaikan “wilayah Kabupaten Lamongan terbagi dalam dataran rendah dan tinggi, pada dataran rendah potensi ancaman bencana terjadinya banjir, sedangkan pada dataran tinggi potensi ancaman bencana kekeringan dan kebakaran hutan, sehingga dalam mengantisipasi bencana kita perlu meningkatkan kapasitas dan juga meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan, dengan konsep kolaborasi yang melibatkan lima unsur utama dalam suatu sistem atau organisasi, antara lain pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media sehingga dapat menciptakan efektivitas dan keberlanjutan dalam mencapai tujuan bersama dengan memanfaatkan potensi dan kekuatan dari masing-masing unsur. Semoga dengan pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pencegahan, penanggulangan, dan penanganan dampak karhutla,” pungkasnya. (Kom-PHT/Mjkt/Wdy)
Editor:Lra
Copyright©2025