PERUM Perhutani menginvestasikan Rp 112 miliar untuk membangun pabrik sagu di Kais, Papua Barat. Pabrik sagu berkapasitas 30.000 ton per tahun ini diharapkan sudah beroperasi penuh Maret tahun depan.
“Pembangunan fisik pabrik sudah mencapai 60 persen. Selanjutnya tinggal penyelesaian pemasangan mesin pengolahan dan mesin boiler serta instalasi listrik. Pabrik sagu ini merupakan bisnis baru bagi Perhutani,” kata Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto, kemarin.
Sayangnya, meski proses konstruksi sudah mencapai 60 persen, Perhutani belum mencapai kesepakatan dengan PT PLN (Persero) sebagai pemasok listrik mengenai harga setrum untuk pabrik tersebut.
“Kami menghidupkan listrik nanti pakai biomass dari hasil pembuangan sagu, tapi harga kami belum sepakat, PLN minta 32 sen per KWH, tapi kami minta 24 per KWH. Katanya tanggal 8 ini mau ketemu lagi supaya kami nego kan biar tidak rugi, begitu juga dengan mereka,” jelas dia.
Nantinya, lanjut Bambang, PLN yang akan membuat pembangkit listrik biomass tersebut tenaganya dapat mencapai 2,4 megawatt (MW). Tahap awal yang penting bisa menggerakkan mesin.
Dia mengatakan, Perhutani membangun pabrik sagu itu di atas lahan 15.000 hektar. Pembangunan telah mendapatkan restu dari Pemerintah Papua dan juga pemegang saham dalam hal ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Bambang yakin pabrik sagu tersebut akan memberikan kontribusi terhadap pendapatan negara melalui devisa. Namun, hasil produksi sagu Perhutani diprioritaskan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Kalau harganya bagus, ya kita ekspor juga dong, jadi sebagian domestik, sebagian ekspor. Kita juga butuh devisa,” tuturnya.
Bambang mengatakan, negara yang sudah menyatakan minatnya untuk mengkonsumsi sagu Perhutani adalah Jepang. asi
Sumber : Rakyar Merdeka, Hal. 15
Tanggal : 5 September 2014