PURWODADI, PERHUTANI (28/08/2025) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi melalui jajaran manajemen melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pada lahan agroforestry tebu di wilayah kerja Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung dan BKPH Tumpuk, pada Rabu (27/08).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Administratur KPH Purwodadi didampingi Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata beserta jajaran. Monitoring dilakukan di lokasi tanaman tebu mandiri maupun tebu kemitraan yang dikelola bersama masyarakat melalui skema agroforestry.

Perhutani KPH Purwodadi saat ini mengelola agroforestry tebu mandiri di wilayah BKPH Bandung dengan luas 17,12 hektare yang terbagi dalam 4 petak dan sepenuhnya dikelola oleh Perhutani. Selain itu, juga dikembangkan agroforestry tebu kemitraan melalui skema Kemitraan Kehutanan Perhutani Produktif (KKPP) dan Kemitraan Kehutanan Perhutani (KKP) bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Pabrik Gula (PG), serta Koperasi Produsen Warga Perum Perhutani (KWPHT) dengan total luas mencapai 299,24 hektare yang tersebar pada 48 petak di wilayah kerja KPH Purwodadi.

Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan monev ini penting untuk memastikan pelaksanaan agroforestry berjalan sesuai rencana. Ia menyatakan bahwa Perhutani memastikan bahwa penanaman dan pemeliharaan tebu di lahan Perhutani, baik yang bersifat mandiri maupun kemitraan bersama masyarakat, berjalan lancar dan tidak mengalami kendala berarti.

“Kegiatan agroforestry tebu ini menjadi wujud nyata pengelolaan hutan berbasis masyarakat, yang tidak hanya menjaga kelestarian hutan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para penggarap, serta mendukung program ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata, Kastur, menambahkan bahwa monitoring juga bertujuan untuk mengukur perkembangan pertumbuhan tanaman tebu serta kesiapan masyarakat dalam pengelolaannya.

“Perhutani melihat langsung kondisi lapangan, baik aspek teknis budidaya maupun peran aktif masyarakat. Sinergi antara Perhutani dan petani penggarap menjadi kunci keberhasilan, sehingga produktivitas lahan meningkat tanpa mengurangi fungsi ekologi hutan,” jelasnya.

Dari sisi masyarakat, salah seorang penggarap tebu di BKPH Tumpuk, Sutrisno, mengaku terbantu dengan adanya program agroforestry. “Kami merasa senang bisa bekerja sama dengan Perhutani. Selain mendapat hasil dari tanaman tebu, kami juga tetap ikut menjaga hutan agar lestari. Pendampingan dari Perhutani membuat kami lebih yakin dalam mengelola lahan,” ujarnya.

Melalui kegiatan monev ini, Perhutani KPH Purwodadi menegaskan komitmennya dalam mendorong sistem agroforestry tebu yang berkelanjutan, sehingga fungsi hutan tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dapat meningkat. (Kom-PHT/Pwd/Aris)

Editor: Tri

Copyright © 2025