PROBOLINGGO, PERHUTANI (09/02/2026)| Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Probolinggo bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang dan pegiat lingkungan menggelar penghijauan inklusif di kawasan hutan petak 29, Resort Pemangkuan Hutan Ranuyoso, Desa Ranu Bedali, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang, untuk menjaga kelestarian hutan, mencegah erosi, dan memastikan pasokan air bersih bagi masyarakat dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat termasuk penyandang disabilitas, Sabtu (7/2).
Gerakan penghijauan bertajuk “Lumajang Nandur Temen, Menyuapi Bumi dan Menyeimbangkan, Ini Pohonku” dihadiri Wakil Administratur/Kepala Seksi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KSKPH) Lumajang Soegiharto Aries Soebagiyo, Pegiat Lingkungan Edy Khozaini dan Gus Pri, jajaran Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang, serta komunitas masyarakat seperti Tagana Dinas Sosial P3A, Taman Baca Amaza, Yayasan Baitul Maal PLN UP3 Jember, Paguyuban Disabilitas Lumajang, Pekerja Sosial Masyarakat Lumajang, Forward Lumajang, Randuagung Community, dan Paguyuban Mukti Tama Lumajang.
Dalam kesempatannya, Soegiharto Aries Soebagiyo, menyampaikan bahwa penanaman pohon disekitar kawasan Ranu Bedali, yang dilaksanakan secara inklusif merupakan bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam.
“Hari ini kita bersama-sama mengadakan penanaman di kawasan Ranu Bedali, yang merupakan kasawan hutan lindung. Ini sangat luar biasa, karena banyak komunitas pecinta lingkungan yang menanam disini, karena di hutan lindung tidak boleh ditebang pohonnya. Dan yang kita tanam disini sudah benar dengan menanam tanaman MPTS, buah-buahan dan kayu-kayuan yang berfungsi untuk melindungi mata air agar tidak berkurang debitnya. Dan yang tidak kalah penting karena lokasinya curam agat tidak terjadi tanah longsor”, terangnya.
Sementara itu,Pegiat lingkungan Edy Khozaini menambahkan bahwa gerakan penghijauan ini mengusung semangat inklusivitas dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas sebagai subyek aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Gerakan Kolaborasi Penghijauan Inklusif ini mengusung semangat inklusivitas dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat sebagai bentuk kepedulian bersama untuk menyuapin bumi, menyeimbangkan alam dan menumbuhkan tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan di Lumajang”, pungkasnya.
Gerakan Kolaborasi Penghijauan Inklusif di Ranu Bedali ini sangat penting bagi masyarakat Ranuyoso, lantaran wilayah ini seringkali kekurangan air bersih, karena sebagian besar masyarakat menggantungkan ketersediaan air bersih dari sumber mata air Ranu Bedali ini. (KOM-PHT/Pbo/Tan).
Editor:Lra
Copyright©2026