JPNN.COM (24/5/2017) | Perum Perhutani mencatat laba perusahaan sebesar Rp 121 miliar pada kuartal satu 2017, jumlah ini meningkat dibanding pada 2016 yang merugi sebesar Rp 321 miliar.

Laporan keuangan perusahaan menunjukkan sampai akhir Maret 2016, Perhutani mengalami kerugian Rp 321 miliar ditambah masih banyak kewajiban yang belum terpenuhi seperti kewajiban pajak, tambahan dana pensiun, peningkatan status karyawan.

Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna menjelaskan, kinerja keuangan yang positif pada Q1 2017 karena upaya transformasi bisnis yang dilakukan, ditopang dengan penurunan biaya pokok penjualan dan biaya usaha.

“Meskipun dari sisi pendapatan juga belum sesuai harapan karena lesunya pasar dunia untuk produk kayu dan gondorukem sebagai andalan bagi Perhutani, tapi kami terus berupaya agar tidak rugi,” ujar Denaldy di kantornya, Rabu (24/5).

Denaldy menambahkan, keberhasilan itu adalah bagian dari rangkaian transformasi bisnis yang tengah dilakukan, sejak dirinya mendapat mandat sebagai dirut pada akhir Agustus 2016.

Pada saat masuk ke Perhutani, kondisi perusahaan beberapa tahun terakhir menunjukan kinerja yang terus memburuk dari sisi kinerja keuangan, operasional serta kualitas sumberdaya hutannya.

Data statistik lima tahun terakhir (2010–2015) menggambarkan secara objektif kondisi tersebut dan pada 2016 merupakan tahun tersulit, yang mengharuskan perusahaan bertransformasi dengan cepat bila ingin tetap exist.

“Ketika perusahaan tidak sehat, menyelesaikan masalahnya tidak bisa dengan pendekatan biasa dan parsial tetapi harus dilihat pula bagaimana struktur organisasi, operasional, keuangan dan budaya kerja yang ada di perusahaan selama ini,” sebutnya.

Sumber : jpnn.com

Tanggal : 24 Mei 2017