GUNDIH, PERHUTANI (29/12/2025) | Upaya pemulihan ekosistem hutan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Gundih di wilayah Kabupaten Grobogan memasuki babak baru. Tidak sekadar bersifat seremonial, kegiatan penanaman seluas 12,5 hektare kini diintegrasikan dengan aspek ekonomi kerakyatan melalui konsep agroforestri yang memadukan tanaman kehutanan dengan komoditas produktif, Senin (29/12).

Kegiatan yang berpusat di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Juworo, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Kedungtawing, petak 43B seluas 12,5 hektare tersebut menargetkan penanaman sebanyak 1.500 bibit tanaman buah. Hingga saat ini, sebanyak 1.200 bibit telah tertanam dan akan disusul 300 bibit tambahan yang terdiri atas alpukat aligator, mangga varietas unggul asal Thailand, serta sawo.

Administratur Perhutani KPH Gundih menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk menanam, tetapi juga memastikan keberlanjutan hingga masa panen agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar hutan.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tanam lalu ditinggalkan. Harapannya, tanaman yang ditanam dapat dipelihara dengan baik hingga menghasilkan panen yang bermanfaat bagi masyarakat desa, ujar Administratur Perhutani KPH Gundih, Haris Setiana, saat ditemui di lokasi kegiatan.

Ia menambahkan, salah satu capaian menarik dalam kegiatan ini adalah keberhasilan budidaya kapulaga di dataran rendah Grobogan. Selama ini kapulaga dikenal sebagai tanaman dataran tinggi, namun melalui uji coba di bawah tegakan pohon keras, tanaman rempah tersebut terbukti mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik.

Secara ekologis, tanaman keras berfungsi sebagai mitigasi bencana dengan menahan erosi, mencegah tanah longsor, serta meminimalkan risiko banjir. Sementara itu, tanaman bawah seperti kapulaga dan laos mampu memberikan nilai ekonomi jangka pendek bagi masyarakat sebelum tanaman buah memasuki masa panen.

Tugas kita bukan hanya mengambil keuntungan dari bumi, tetapi juga memastikan lingkungan tetap lestari. Perusahaan tidak boleh hanya mengejar profit, melainkan juga bertanggung jawab secara sosial dan ekologis, pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Indonesia (SKEPHI) Koordinator Wilayah Jawa Tengah, Mahmun Boedhowi, menyampaikan bahwa pelestarian hutan di kawasan desa hutan perlu terus diperkuat melalui keterlibatan aktif masyarakat lokal. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 1.500 bibit tanaman buah disalurkan kepada masyarakat penggarap di kawasan hutan BKPH Juworo, RPH Kedungtawing, petak 43B.

Ia berharap bibit tanaman buah yang telah diserahkan dapat dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya oleh keluarga penerima agar kelak memberikan manfaat nyata bagi seluruh pihak.

Selain penyaluran bibit, kegiatan ini juga menjadi sarana penguatan komitmen bersama antara para pemangku kepentingan dan masyarakat desa. Penyelenggara menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian hutan sangat bergantung pada partisipasi berkelanjutan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya. (Kom-PHT/Gdh/Dwi)

Editor: Tri
Copyright © 2025