TRIBUNNEWS.COM (07/02/2026) | Telaga Kumpe di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, merupakan destinasi wisata yang menawarkan pemandangan alam.

Letaknya yang berada di lereng Gunung Slamet menjadikannya memiliki keindahan alami.

Wisatawan akan dimanjakan dengan suasana alam yang asri, pepohonan pinus dan kopi, hingga bukit yang serba hijau.

Sayangnya, potensi keunggulan wisata alam tersebut belum terkelola dan terpublikasikan secara optimal.

Saat ini, Telaga Kumpe dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wonosari dan PT Palawi Risorsis yang merupakan anak perusahaan Perum Perhutani.

Sedangkan untuk tiket masuk per orang, hari biasa Rp 7.500 dan hari libur Rp 10 ribu, lalu parkir sepeda motor Rp 2.000 dan mobil Rp 4.000.

Sekretaris LMDH Wonosari, Ali Masrur mengatakan, objek wisata Telaga Kumpe di lahan milik Perhutani tersebut berdiri sejak enam tahun lalu, pada 2019.

Awalnya bermula dari inisiatif masyarakat.

Dulunya, di area Telaga Kumpe hanya semak belukar.

“Tidak pakai anggaran. Masyarakat cuma kerja bakti, membersihkan semak belukar,” katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (5/2/2026).

Ali mengatakan, setelah dibersihkan dan ditata oleh masyarakat, kemudian pengunjung berdatangan.

Setelah dikelola, dilakukan perjanjian kerasama dengan Perhutani dan diluncurkan, pada 6 Januari 2019

Bantuan berdatangan, seperti bantuan tempat sampah dari komunitas, gazebo senilai Rp 30 juta dari PLN, ikan dari dinas perikanan, pelatihan dan pembinaan dari dinas pariwisata dan sebagainya.

“Tahun pertama pembukaan Telaga Kumpe sangat ramai, tapi lalu ada pandemi Covid-19, mulai menyusut,” ungkapnya.

Pendapatan Menurun

Ali menjelaskan, saat sedang booming, pengunjung pernah tercatat sebanyak 16 ribu orang dalam setahun dengan rata-rata per hari di atas 1.000 orang.

Tetapi kini per bulan hanya sekira 300 pengunjung.

Meski begitu, LMDH Wonosari sedang berupaya untuk mem-booming kan kembali Telaga Kumpe.

Baik melalui sarana prasarana maupun promosi.

“Kami juga sudah memalukan pengajuan ke PT Palawi Risorsis mengenai kendala perahu tidak layak operasi. Kami minta agar pembiayaan bersama, kalau dulu dibebankan ke LMDH,” ujarnya.

Menurut Ali, pendapatan dari objek wisata Telaga Kumpe sudah ada pembagian yang merata, pertama diambil untuk cetak tiket dan kebersihan.

Setelah itu ada pembagian sharing, sejumlah 40 persen untuk PT Palawi Risorsis dan sejumlah 60 persen untuk LMDH.

Perolehan LMDH kemudian dibagi lagi, yaitu 50 persen untuk honor pengelola 12 orang, 20 persen untuk PAD desa, 10 persen untuk kas tiga RT, dan 20 persen sisanya masuk kas.