REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS (26/2016) | Tradisi “wiwit” kopi atau memulai panen tanaman kopi yang dimiliki masyarakat di Desa Colo Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, akan dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi wisata di daerah setempat.

“Selama ini, kami memang belum mempromosikan sejumlah objek wisata yang layak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah secara masif. Karena tradisi ‘wiwit’ kopi akan menjadi agenda tahunan, tentunya bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan paket wisata yang ada,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata Padhang Bulan Desa Wisata Colo Moh. Syokib Garno di Kudus, Selasa.

Apalagi, lanjut dia, sejumlah objek wisata yang ada di kawasan Desa Colo cukup menarik dikunjungi. Seperti kebun kopi, kebun parijoto, industri kopi rumahan, serta kerajinan batik khas Colo.

Bahkan, kata dia, kelompok sadar wisata juga sudah membuat paket wisata bagi wisatawan yang hendak berkunjung selama sehari maupun dua hari atau lebih.

Di antaranya, paket wisata sehari, meliputi jelajah kebun kopi yang ada di lereng Pegunungan Muria, memanen, kemudian diperlihatkan cara mengolah kopi hingga menjadi minuman kopi secara tradisional.

Untuk paket wisata dua hari, meliputi mini kafe, jelajah kebun kopi, okulasi dan edukasi soal kopi muria.

Agar pengunjung juga menikmati kunjungannya itu, kata dia, di kawasan pegunungan juga tersedia permainan “flying fox” serta “mini cafe”.

Pada awal penyelenggaraan tradisi ‘wiwit’ kopi, kata dia, jumlah pengunjungnya cukup banyak, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan objek-objek wisata yang dimiliki oleh masyarakat Desa Colo.

Selain itu, kata dia, kegiatan tradisi wiwit kopi yang awalnya digelar oleh masing-masing petani kopi, bisa dipromosikan pula untuk menarik wisatawan karena lokasi kegiatan berada di pegunungan dengan pemandangan alam yang cukup menarik.

Dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Colo, dia berharap, upaya pelestarian alam sekitar juga bisa digelorakan ke semua masyarakat, karena tanpa harus merusak tetap bisa mendapatkan penghasilan.

Petani kopi yang selama ini memanfaatkan lahan milik Perum Perhutani juga bisa diberdayakan untuk menarik minat wisatawan.

“Ketika banyak wisatawan yang berminat mengunjungi kebun kopi, kami yakin nantinya akan muncul sumber-sumber penghasilan baru bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, setiap menjelang musim panen kopi akan digelar tradisi wiwit kopi yang tahun ini dijadwalkan bulan September 2016.

Tanggal : 24 Agustus 2016
Sumber : Republika.co.id