PIKIRAN-RAKYAT.COM (23/01/2026) | Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung, tengah mempersiapkan diri menjadi pintu gerbang baru bagi para pendaki Gunung Prau. Berbeda dengan jalur pendakian yang sudah ada, rencana pembukaan jalur via Campurejo tidak hanya berfokus pada pembangunan akses fisik, melainkan menjadikan kelestarian alam sebagai prioritas utama. Untuk mewujudkan hal itu, warga setempat bersama Perhutani dan berbagai pihak terkait menggelar aksi reboisasi massal dengan menanam 500 bibit pohon di kawasan hutan yang menjadi bagian jalur pendakian tersebut.

Kegiatan penanaman yang berlangsung pada Kamis, 22 Januari 2026, ini dilakukan di petak 7 wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kedu Utara, Desa Campurejo. Sekretaris Desa (Sekdes) Campurejo, Haida Sofa, menjelaskan bahwa penghijauan menjadi langkah awal dan fondasi sebelum jalur resmi dibuka untuk umum. Menurutnya, tanpa upaya pemulihan ekosistem terlebih dahulu, kehadiran pendaki justru berpotensi mempercepat degradasi lingkungan di lereng Gunung Prau yang sudah mulai menipis vegetasinya.

Aksi ini melibatkan sekitar 250 warga, termasuk relawan dari Basecamp Campurejo dan Wates, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Safinah Rimba Abadi, serta unsur TNI-Polri. Administratur/KKPH Kedu Utara, Andrie Syailendra, turut memimpin langsung kegiatan tersebut, menunjukkan komitmen kuat dari Perhutani dalam mendukung inisiatif masyarakat lokal.

Penanaman Pohon Produktif dan Konservasi untuk Manfaat Jangka Panjang

Pemilihan bibit pohon dalam aksi reboisasi ini tidak dilakukan secara sembarangan. Selain pohon Puspa yang berfungsi utama untuk konservasi dan pemulihan ekosistem hutan, warga juga menanam jenis tanaman produktif atau Multi Purpose Tree Species (MPTS) seperti alpukat, jambu, serta kopi. Kombinasi ini diharapkan tidak hanya mengembalikan kerimbunan lereng Prau, tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitar di masa depan.

Haida Sofa menegaskan bahwa area penanaman sengaja dipilih pada zona hutan yang tegakannya sudah mulai jarang akibat berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia di masa lalu. Dengan penanaman ini, diharapkan vegetasi alami dapat pulih secara bertahap, sehingga ketika jalur pendakian dibuka nanti, para pendaki akan disambut oleh pemandangan hutan yang hijau, asri, dan lestari. “Kita ingin jalur Campurejo dikenal karena keindahan alamnya yang terjaga, bukan hanya karena akses yang mudah,” ujarnya.

Langkah ini juga menjadi bentuk antisipasi agar dampak wisata alam tidak merusak lingkungan. Dengan menyiapkan alam terlebih dahulu, Desa Campurejo berupaya menghindari masalah yang sering terjadi di banyak destinasi pendakian populer, seperti erosi tanah, sampah berlebih, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Terinspirasi Pesan Bupati Temanggung soal Harmoni dengan Alam

Inisiatif penanaman 500 pohon ini turut terinspirasi dari pesan Bupati Temanggung, Agus Setyawan, yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Campurejo selama 16,5 tahun. Dalam acara Nyadran Perdamaian di Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran beberapa waktu lalu, Bupati Agus menekankan pentingnya menjaga harmoni dengan alam, sama seperti menjaga hubungan antar-manusia.

Haida Sofa mengaku pesan tersebut sangat membekas dan menjadi motivasi kuat bagi warga Campurejo untuk mengambil langkah nyata. “Pak Bupati sering mengingatkan bahwa berdamai dengan alam adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lereng gunung seperti kami. Itu yang mendorong kami bergerak sekarang,” katanya.

Dengan latar belakang tersebut, aksi reboisasi ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk menjaga Gunung Prau tetap menjadi destinasi wisata alam yang berkelanjutan. Harapannya, bibit-bibit yang ditanam hari ini dapat tumbuh besar dan menjadi penutup hijau yang menyambut ribuan pendaki di tahun-tahun mendatang.

Kolaborasi Masyarakat, Perhutani, dan Pemerintah untuk Jalur Pendakian Baru

Keberhasilan aksi penanaman ini tidak lepas dari kolaborasi erat antara berbagai pihak. Perhutani KPH Kedu Utara memberikan dukungan teknis dan lahan, pemerintah desa mengoordinasikan warga, sementara relawan basecamp dan LMDH turut serta dalam penanaman serta pemeliharaan bibit. Kehadiran TNI-Polri juga menambah kekuatan dalam memobilisasi massa dan menjaga kelancaran kegiatan.

Haida Sofa berharap, setelah jalur pendakian via Campurejo resmi dibuka, Desa Campurejo tidak hanya menjadi titik transit pendaki, tetapi juga contoh desa wisata yang mampu menyeimbangkan antara pengembangan ekonomi melalui pariwisata dan pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan seperti ini, Gunung Prau diharapkan tetap menjadi kebanggaan Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Temanggung, sebagai gunung yang indah sekaligus lestari bagi generasi mendatang.

Aksi sederhana menanam 500 pohon ini menjadi bukti bahwa upaya pelestarian alam bisa dimulai dari tingkat desa, dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Semoga langkah ini menginspirasi daerah lain yang tengah mempersiapkan destinasi wisata alam baru.

Sumber : pikiran-rakyat.com