KUMPARAN.COM (17/12/2025) | Wisata Hutan Payau Cilacap adalah lahan rawa berisi tanaman mangrove seluar 10 hektar yang dikelola oleh Perum Perhutani KPH Banyumas Barat dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah sebagai hutan pelindung ekosistem di kawasan Segara Anakan. Hutan payau ini mulai dirintis pada tahun 1978 tetapi baru dijadikan hutan kota berdasarkan keputusan Bupati Cilacap, pada tanggal 2 Maret 2009. Hutan Payau Cilacap juga digunakan sebagai tempat wisata lingkungan.
Wisata Hutan payau berada di Kelurahan Tritih Kulon, Kecamatan Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap. Lokasinya berbatasan langsung dengan persawahan warga sekitar. Namun dari Jalan Nusantara terdapat pintu gerbang khusus bagi para wisatawan. Di hutan ini, sekarang sudah terdapat 15000 jenis pohon yang terdiri dari tancang (bruguiera gymnorrhiza), api-api (avicennia sp), bakau bandul (rhizophora mucronata) dan bakau kacangan (rhizophora apiculata). Tanaman lain yang juga tertanam di hutan ini adalah mangrove asosiasi seperti jeruju (acanthus ilicifolius), waru dan ketapang (terminalia catappa). Sebagian besar mangrove tersebut merupakan hasil penanaman yang dilakukan sejak tahun 1978. Dengan kerapatan yang cukup tinggi, mangrove-mangrove ini terlihat sangat lebat di sepanjang walking track berada di sela-selanya, walaupun di bagian belakang ujung jalan terdapat mangrove yang rusak karena ditebangi oleh warga sekitar untuk dijadikan kayu bakar.
Jembatan mesra” merupakan istilah yang sering mucul dari para wisatawan yang menikmati suasana hutan asri melewati jembatan kayu. Disebut jembatan mesra karena hanya cukup untuk jalan berdua. Jika berpapasan, salah seorang harus mengalah untuk menyimpang. Jembatan di atas rawa ini merupakan fasilitas yang disediakan oleh pengelola. Di setiap sudut tikungan terdapat gubug-gubug kecil bagi pengunjung yang ingin beristirahat, sekadar duduk santai atau berfoto. Ujung dari jembatan sepanjang sekitar 300 meter ini adalah area cukup luas di tepi segara anakan. Di ruang terbuka hijau ini juga terdapat bangunan aula tanpa dinding yang biasanya digunakan untuk tempat permainan para wisatawan, hiburan, pelatihan, acara-acara keagamaan, dan kajian bagi para peneliti.