Perbedaan iklim dan budaya tidak menghalangi hubungan Indonesia-Korea Selatan (Korsel). Di sektor kehutanan, lebih dari 30 tahun hubungan dua negara itu terjalin. Perjanjian kerja sama kehutanan dengan Korsel ditandatangani pada 1979. Berbagai pertemuan rutin pun dijalani kedua negara. Hasilnya, pada 2007 ada kesepakatan kerja sama investasi pembangunan hutan tanaman dan A/R CDM di Indonesia, rehabilitasi mangrove, pengembangan sumber benih dan teknologi persemaian (sister ties), pendidikan dalam bidang CDM plantation, serta penelitian dalam bidang sumber daya hutan tropika.

Kelanjutan kerja sama itu diteruskan Indonesia-Korea Forest Forum (IKFF). Komite IKFF tidak hanya terdiri dari unsur pemerintah kedua negara, tapi juga melibatkan pengusaha dan akademisi. Realisasi kerja sama itu, antara lain, proyek pengembangan sumber benih yang saat ini telah mencapai tahap kedua. Pada kerja sama Forest Tree Seed Sources Management and Development Project, pemerintah Korsel memberikan bantuan senilai US$2,4 juta (2008-2009). Pada tahap I, bantuan yang disalurkan senilai US$1,6 juta selama tiga tahun.

Proyek lainnya pembangunan rumah adat untuk ekowisata dalam bentuk sister park. Kerja sama itu untuk membangun kemitraan dalam mengembangkan taman nasional Indonesia dan Korea. “Kerja sama ekowisata ini sangat tepat karena dilakukan dengan pendekatan ecocultural. Kegiatan ini menyinergikan perilaku alamiah dengan perilaku budaya masyarakat setempat dalam berinteraksi dengan lingkungan hidupnya,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan saat acara peletakan batu pertama rumah adat Korea di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Zulkifli Hasan menjelaskan kerja sama RI-Korsel itu mengedepankan keterpaduan antara budaya masyarakat lokal dan pengelolaan hutan lestari. `’Tujuannya untuk menyejahterakan rakyat.” Ia mengakui investasi di sektor kehutanan bersifat jangka panjang, minimal hasilnya dipetik lima tahun. `’Dalam kerjasama dengan Korsel, dilakukan penanaman tanaman hutan yang termasuk jenis cepat tumbuh, seperti sengon, Acasia mangium, baru dapat dipanen pada umur 6 hingga 8 tahun,” ujarnya.

Ia menjelaskan kerja sama dengan Korsel tidak menutup kemungkinan bisa dikembangkan pada jenis tanaman yang menjadi core business Perum Perhutani, yaitu jati. Tanaman jati dipanen pada usia sekitar 10 hingga 15 tahun. Ia menambahkan, tanaman jati bernilai ekonomis tinggi karena harganya bisa mencapai Rp15 juta per meter kubik.

Kerja sama tingkat regional juga dilakukan. Dalam pertemuan ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry (AMAF) di Bali pada 6 Oktober lalu, telah disepakati kerja sama ASEAN dengan Korsel. “Inisiatif baru tengah dimulai untuk mendukung momentum usaha saat ini guna memastikan pengelolaan hutan, kontribusi hutan terhadap ketahanan pangan, dan perubahan iklim, seperti Kerja Sama Kehutanan ASEAN-RoK (Republic of Korea) atau ASEAN RoK on Forestry Cooperation (AFoCo).“ Ia berharap kerja sama itu akan memperkuat upaya ASEAN dalam mengatasi isu yang timbul mengenai kehutanan. Yakni, isu yang masih terkait dengan perubahan iklim, termasuk mempromosikan pengelolaan pelestarian hutan di kawasan. (Fid/N-1)

Nama Media  : MEDIA INDONESIA
Tanggal          : Senin, 28 November 2011, Hal. 8-9
TONE               : NETRAL