BANYUWANGI SELATAN, PERHUTANI (9/4/2026) – Dalam rangka turut melestarikan ekosistem hutan Mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi dan memberikan manfaat sosial ekonomi termasuk potensi penyerapan karbon biru, organisasi/lembaga peduli lingkungan Center for Internasional Forstry Research-World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) bersama Pemkab. Banyuwangi dan Untag Banyuwangi gandeng Perhutani KPH Banyuwangi Selatan dan stake holder Gelar Lokakarya guna Konsultasi multipihak dalam mendukung readiness tata kelola dan skema pendanaan karbon biru berbasis pengelolaan mangrove yang berkelanjutan di Banyuwangi di Ballroom Hotel Luminor Banyuwangi pada selasa hingga Rabu (7-8/4).
Pada sambutannya Scientist CIFOR-ICRAF Ani Adiwinata,PhD menyampaikan apresiasi dan terima kasih pada semua pihak Pemkab Banyuwangi termasuk Perhutani KPH Banyuwangi Selatan atas dukungan turut melestarikan ekosistem hutan Mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi dan memberikan manfaat sosial ekonomi termasuk potensi penyerapan karbon biru dan giat lokakarya dalam upaya Konsultasi multipihak dalam mendukung readiness tata kelola dan skema pendanaan karbon biru berbasis pengelolaan mangrove yang berkelanjutan, ungkapnya.
Sementara Budi WahonoSekretaris Bappeda Kabupaten Banyuwangi mewakili Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi. Dalam pembukaan acara Lokarkaya menyampaikan informasi mengenai inisitaif pengelolaan mangrove yang sudah diimplementasikan di Banyuwangi dan harapan ke depannya. Lokakarya ini terbagi menjadi 3 tema utama yaitu tata kelola karbon biru mangrove, skema pendanaan, dan pengembangan kapasitas serta edukasi pemangku kepentingan. Isu tersebut dikemas melalui sesi presentasi dan FGD.
Administratur Perhutani KPH Banyuwangi Selatan Wahyu Dwi Hadmojo elalui Kas Perencanaan dan bangbis Widodo menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada organisasi/lembaga peduli lingkungan CIFOR dari Bogor bersama Pemkab. Banyuwangi dan Untag Banyuwangi atas prakarsa dan inisiasinya menggelar lokakarya dalam upaya Konsultasi multipihak dalam mendukung readiness tata kelola dan skema pendanaan karbon biru berbasis pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Hal ini sebagai dukungan pada tata kelola karbon biru (blue carbon) dan penguatan kapasitas masyarakat untuk pembiayaan karbon biru termasuk pengelolaan hutan mangrove di Kab. Banyuwangi sebagai bentuk upaya turut melestarikan ekosistem hutan Mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi dan memberikan manfaat sosial ekonomi termasuk potensi penyerapan karbon biru, dan hutan mangrove ini merupakan hutan lindung yang banyak mempunyai fungsi antara lain menjaga abrasi, mencegah intrusi lair laut, menahan gelombang air laut, mencegah abarasi, tempat hidup biota laut dsb, dan Kami berkomitmen akan menjaga melestarikannya dengan melakukan giat penanaman mangrove dengan menggandeng pihak terkait lainnya, serta berharap pada semua elemen bangsa dan masyarakat turut menjaga dan melestarikan hutan mangrove dengan menanam pohon karena kelestarian alam dan lingkungan sekitar kita menjadi tanggung jawab kita bersama, tutur Widodo.
Lanjut Widodo menambahkan pengelolaan hutan meliputi tiga aspek yang harus berjalan seimbang yakni aspek Ekologi, ekonom dan sosial dengan harapan hutan lestari dan bermanfaat bagi masyarakat/ masyarakat sejahtera, dan dalam mengelola kelestarian lingkungan kita tidak bisa sendiri perlu dukungan dari stakeholer/pihak lain termasuk TNI-Polri, DLH, CDK dan Pemkab, PT. BSI, akademisi, mahasiswa elemen masyarakat, termasuk lembaga/organisasi peduli lingkungan seperti CIFOR dll, termasuk giat penanaman pohon bentuk sedekah oksigen yang berfungsi juga untuk edukasi bagi masyarakat untuk lebih cinta dan peduli terhadap lingkungan guna mengatasi isu perubahan iklim, terus hijaukan negeri untuk lingkungan yang lestari, serta Tanam 1 harapan pohon pengendali perubahan iklim, pungkasnya. ( Kom-PHT/BWS/Dik).