detik.com – Kehadiran pabrik sagu milik Perum Perhutani di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan memberikan manfaat bagi warga di pedalaman Papua Barat ini. Sebelum ada pabrik sagu ini, akses transportasi hanya mengandalkan jalur laut dan sungai.

Untuk menembus Kais, warga Ibukota Sorong Selatan (Teminambuan) atau sebaliknya, harus menempuh perjalanan 3-4 jam memakai long boat, bahkan bisa 7 hari bila warga menggunakan kapal tradisional yang didayung.

Dengan kehadiran pabrik sagu yang mulai dibangun sejak 2013 oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, akses jalan nasional dari Teminambuan menuju daerah terisolir di Distrik Kais mulai dibuka.

“Sebelum adanya pabrik yang diikuti pembangunan jalan, akses dari atau ke Kais sebelumnya melalui sungai dan laut,” kata Sekretaris Distrik Kais, Yosias Tumana di Tepi Dermaga Kais, Sorong Selatan, Papua Barat, Rabu (30/12/2015).

Akses jalan ke daerah berpenduduk 1.527 jiwa ini kini sudah bisa dilalui jalur darat meskipun jalan masih dilapisi tanah kapur. Rencananya, jalan tersebut akan diaspal hingga masuk ke arah pabrik yang berada di tepi Sungai Kais. Untuk jalur darat, kini bisa ditempuh dalam waktu 2,5 jam bahkan bisa lebih cepat bila jalan telah tuntas diaspal atau dibeton.

Akibat daerah yang terisolir beberapa lama, harga makanan hingga BBM terbilang mahal. Untuk premium atau solar, warga Kais bisa membayar Rp 20.000 per liter karena mahalnya biaya angkut.

Selain bisa menekan ongkos transportasi, warga Kais yang terdiri dari 5 kampung bisa memperoleh manfaat ekonomi dari kehadiran pabrik sagu modern dan terbesar di Indonesia itu. Setidaknya 500 warga bisa bekerja sebagai tenaga kerja di pabrik hingga menjadi penjual batang sagu.

“Kehadiran pabrik sagu bisa buat kesempatan kerja baru. Ini jelas beri manfaat positif ke ekonomi warga,” tutur Yosias.

Sumber : detik.com
Tanggal : 30 Desember 2015