Radar Jember – GEMAR Blusukan. Itulah Enny Handhayany Yan-to Saputra Menariknya, blusukan yang dilakukan oleh perempuan yang kini bekerja di KPH Perhutani Bondowoso ini lebih ekstrem dari biasanya.
Bukan ke pasar tradisional, pelelangan ikan, atau perkampungan yang biasanya memikat hati rakyat seperti dilakukan politisi, tapi dia blusukan ke hutan.
Kebiasaan jalan-jalan ke alam bebas tersebut semakin dia gemari ketika kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada.
Siapa sangka, hobinya tersebut saat ini berkontribusi besar terhadap pekerjaanya sebagai Kasi Pengelolaan Sumber Daya Hutan di Perhutani. Bagi dia jalan-jalan ke rimba raya menghadirkan kesenangan yang justru jarang didapat oleh orang lain.
Berbeda dengan aktivitas kebanyakan, jalan-jalan ke hutan butuh perjuangan dan penuh sensasi. Aktivitas itu tentu di luar dari zona kenyamanan bila dibandingkan dengan aktivitas perempuan yang biasanya banyak di rumah. Melihat luasnya rimba, tingginya pohon dan besarnya gunung, Eni semakin percaya terhadap kebesaran Yang Maha Kuasa.
Suara khas hutan juga membuatnya merasakan kenikmatan tersendiri. Mulai dari semilir angin, kicau burung sampai bebunyian serangga. Sesekali ada perasaan seram tapi juga menyenangkan. Yang tak bisa ditemukan di perkotaan ketika masuk hutan adalah adalah segarnya udara. Saat di dalam belantara, seringkali dia menarik nafas dalam-dalam, memenuhi paru-paru dengan udara segar.
“Bersih, tanpa polusi itu ada di hutan,” katanya. Segarnya udara di hutan sudah barang tentu juga dia harapkan bisa didapat di perkotaan. Hal itu menurutnya bisa dicapai jika penanaman pohon terus digalakkaan. Minimal satu orang mempunyai satu pohon. Edukasi terbaik untuk cinta terhadap lingkungan, tentu diajarkan sejak kecil. Yakni mulai menanam, menyiram hingga pohon itu menjadi besar. Jika itu berhasil, maka saat dewasa kelak, anak tersebut tahu tanaman juga termasuk mahluk hidup. Sehingga, mereka memiliki alasan kuat untuk tidak melakukan perusakan atau penebangan hutan.
Negara ini menurutnya dikenal sebagai zamrud khatulistiwa. Julukan itu lahir karena banyak pepohonan hijau yang ada di Indonesia. Apalagi negeri maritim ini juga dilalui garis khatulistiwa. Namun banyaknya penebangan liar, atau menganti pohon dengan pertambangan membuat Eni miris. Karena sebutan zamrud khatulistiwa hanya tinggal nama saja. Padahal, kata dia, jika hutan itu lestari masyarakat akan mendapatkan manfaat langsung.
Bahkan tak ada ceritanya kekeringan air, karena fungsi hutan salah satunya menyimpan air. Lestarinya hutan tentu berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat setempat. Salah satu contohnya pembagian dana sharing produksi, baik kayu, dan getah pinus. Total dana sharing tahun 2013 dan dibagikan tahun ini mencapai Rp 207 juta yang diserahkan ke Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Jumlah tersebut, kata Eni, adalah kecil.
Karena dari pengalaman bekerja di KPH Perhutani Banyuwangi barat, dana sharing bisa mencapai angka milyaran rupiah. Sehingga, masyarakat perlu menjaga agar hutan tetap lestari. Sejauh ini Bondowoso memiliki kawasan hutan yang menarik. Tak hanya hutan belantara tapi juga ada objek pariwisata. Salah satunya adalah air terjun, bahkan yang kini booming Kawah Wurung di Sempol. Bahkan juga ada objek menarik di kawasan Perhutani di Desa Solor, Cermee. Di tempat tersebut ada batu mirip dengan stonehenge di Inggris.
(dwi/esb)
Sumber : Radar Jember, hal. 3 & 4
Tanggal: 29 Agustus 2015