BISNIS.COM, JAKARTA (27/10/2016) | Perum Perhutani, perusahaan milik negara yang mengelola hutan di Jawa, akan menyediakan lahan 67.200 hektare kepada pabrik gula milik negara dan swasta untuk perkebunan tebu. Alokasi hutan yang dikelola Perhutani untuk perkebunan tebu tersebut untuk mengatasi rendahnya kapasitas beberapa pabrik gula. Kapasitas beberapa pabrik gula saat ini rendah karena kekurangan pasokan tebu. Hal itu disebabkan pabrik gula sulit memperoleh lahan untuk perkebunan tebu.
Padahal, kapasitas pabrik gula minimal 4.000 ton tebu per hari agar efisien. Namun, sekitar 17% dari total pabrik gula BUMN berkapasitas di bawah 2.000 ton per hari. Sekitar 58% pabrik gula berkapasitas 2.000—4.000 ton per hari, sedangkan 25% di atas 4.000 ton per hari. Saat ini, terdapat total 48 pabrik gula BUMN. Dirut Perum Perhutani Denaldy M. Mauna mengatakan, distribusi lahan seluas 67.200 ha tersebut diharapkan rampung maksimal tiga tahun lagi.
Saat ini, Perhutani dan perusahaan produsen gula tengah melakukan pemetaan lahan dan penilaian kesesuaian lahan dengan menggunakan pihak ketiga. “Kami diminta untuk menyediakan 67.200 ha baik untuk PG BUMN maupun PG swasta. Saat ini kami sedang petakan pembagian lahannya akan seperti apa. Itu ada kriteria-kriterianya,” ujarnya, Rabu (26/10).
Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang nanti-nya akan menjadi pertimbangan berapa alokasi lahan yang disediakan pada pabrik gula yang dikelola PTPN dan swasta. Pertama , kapasitas pabrik gula dalam menampung tebu hasil budi daya. Kedua , distribusi lahan juga akan memertimbangkan lokasi pabrik gula mengingat beberapa pabrik gula letaknya tidak terlalu berjauhan. Selain itu, Perhutani dan pabrik gula akan melakukan penilaian untuk melihat kesesuaian lahan untuk budi daya tebu.
“Saat ini masih kami petakan. Kami juga akan meminta pihak ketiga untuk memeriksa apakah lahan ini cocok atau tidak untuk budidaya tebu. Karena tebu ini termasuk complicated ,” kata Denaldy. Menurutnya, lokasi lahan akan berada di jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatra bagian selatan. Untuk dapat bekerja sama dengan Perhutani dengan memanfaatkan lahan, perusahaan disyaratkan melakukan penanaman pohon pada lahan yang digunakan oleh pabrik gula.
Jika menggunakan 1.000 ha lahan Perhutani untuk budi daya tebu, maka di lokasi lain perusahaan harus menanam pohon. “Kami persilakan pakai lahan, tetapi syaratnya pohon juga ditanam. Jadi kami bukan menyerahkan lahan untuk bikin tebu saja. Kalau seperti itu keseimbangan hutan tidak ada,” jelas Denaldy. Pihak Perhutani, katanya, belum menentukan jangka waktu penggunaan lahan untuk perkebunan tebu. Namun, Perhutani dan perusahaan akan melakukan evaluasi jalannya kerja sama tersebut setiap lima tahun.
KEBUN TEBU
Direktur Operasional PT Kebun Tebu Mas, pabrik gula swasta yang beroperasi di Lamongan, Agus Susanto mengatakan, pihaknya telah mengajukan surat kerja sama lahan seluas 12.000 hektare untuk pengembangan tebu. Luasan lahan tersebut nantinya akan melengkapi 18.000 hektare lahan petani tebu yang sudah menjalin kerja sama dengan Kebun Tebu Mas. Pasalnya, lahan petani tebu tersebut belum cukup untuk memasok kebutuhan perusahaan.
“Kami sudah mengajukan untuk kerja sama 12.000 ha, tetapi masalah lokasi itu belum pasti. Luasannya juga belum pasti . Namun, kami harap 12.000 ha itu bisa mencukupi kebutuhan pabrik kami,” katanya. Dia memaparkan, Kebun Tebu Mas memproduksi gula kristal putih dengan kapasitas 12.000 ton tebu per hari. Namun, kapasitas pabrik masih dapat ditingkatkan hingga 22.000 ton per hari sehingga membutuhkan lahan yang cukup luas. Kebun Tebu Mas memulai operasi pada 1 Juli 2016.
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) Didiek Prasetyo mengatakan, kerja sama Perhutani dan pabrik gula tersebut membantu perusahaan dalam meningkatkan produksi gula nasional yang ditargetkan mencaai 3 juta ton pada 2019. Produksi gula saat ini sekitar 2,5 juta ton per tahun. “Kami memiliki tujuh PG dan pada 2016 ini mengelola tebu dari 55.000 ha yang berasal dari HGU dan tebu rakyat. Pada 2020 kami targetkan lahannya mencapai 78.000 ha dan sisa lahan itu bisa dikerjasamakan dengan Perhutani,” ujar Didiek.
Saat ini, Indonesia memiliki lahan tebu seluas 463.000 ha dengan total 48 pabrik gula milik BUMN. Selain itu, ada sekitar sebelas pabrik gula rafinasi yang mengimpor gula mentah atau raw sugar sebagai bahan baku. Saat ini, Perum Perhutani mengelola 2,4 juta ha hutan di Jawa dan Madura dan total 3,7 juta ha di seluruh Indonesia termasuk dengan Inhutani.
 
Tanggal : 27 Oktober 2016
Sumber : bisnis.com