KOMPAS.COM (16/07/2019) | Sejak kisahnya melejit ke telinga masyarakat, Gedung Papak yang berlokasi di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah kian ramai dikunjungi pelancong dari berbagai daerah. Meski bangunan tua itu belum dioperasikan sebagai objek wisata, namun pihak pengelola akan dengan senang hati mendampingi siapa saja yang hendak melepas rasa penasarannya. Pada Sabtu (14/7/2019) siang, puluhan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dari fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sejarah menyambangi Gedung Papak.
Dengan ditemani seorang dosen dan pengelola Gedung Papak, mahasiswa-mahasiswi itu juga menggandeng puluhan pelajar SMPN 1 Geyer dan SMAN 1 Geyer untuk mengikuti kegiatan mereka.
Sebagai catatan, selama kurang lebih 3 bulan, 40 mahasiswa Unnes semester 6 tersebut mengobservasi tentang sejarah Gedung Papak dengan mengumpulkan keterangan dari Perhutani KPH Gundih, Pemdes Geyer dan warga setempat.
Kegiatan mereka ini dalam rangka melengkapi tugas mata kuliah konservasi kesejarahan.
Sejatinya, para pelajar ini diminta untuk melaksanakan riset mengenai bangunan bernilai sejarah tinggi yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.
“Nah, kami pun akhirnya sepakat memilih Gedung Papak. Bangunan ini menyimpan sejarah kelam masyarakat indonesia. Saksi hidup kekejaman penjajah Belanda dan Jepang, termasuk Jugun Ianfu. Nilai sejarahnya tinggi, tapi belum ada perhatian khusus dari pemerintah. Kami sudah riset 3 bulan dan hari ini kami mengajak pelajar SMP/SMA berkunjung sekaligus belajar,” terang Bagus Adi Cahyono, perwakilan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) dari Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sejarah kepada Kompas.com.
Sebelum mengajak puluhan murid SMP/SMA itu untuk menyambangi Gedung Papak, para mahasiswa Unnes terlebih dahulu menggelar workshop kecil di aula SMPN 1 Geyer pada pagi harinya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 35 murid SMP/SMA tersebut.
Sejumlah pembicara dihadirkan, mulai dari Perhutani KPH Gundih selaku pemilik lahan Gedung Papak, Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Grobogan dan Pemdes Geyer. Hanya saja, tidak ada perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang hadir meski sudah diundang. “Undangan sudah diserahkan, tapi tidak ada perwakilan yang datang. Kecewa sih, tapi mau gimana lagi,” celetuk seorang mahasisiwi Unnes.
Bagus menyampaikan, selain sebagai materi belajar bagi dia dan rekan-rekannya, kegiatan yang mereka wujudkan ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat terutama generasi muda tentang arti pentingnya sejarah. Jangan sampai masyarakat tidak mengenal akan kisah berharga di sekitarnya atau bahkan mengabaikan kelestarian benda-benda bersejarah.
“Kami yakin jika Gedung Papak dikembangkan menjadi objek wisata pasti akan ramai dikunjungi. Bangunannya masih utuh belum dipugar serta menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Kami berharap gedung papak terus dilestarikan dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda,” pungkasnya.
Puluhan murid SMP/SMA yang mengenakan seragam pramuka itu terlihat antusias mengikuti kunjungan ke Gedung Papak. Meski menyimpan kisah-kisah seram, ekspresi anak-anak itu terlihat santai. Tak sedikitpun nampak raut wajah ketakutan.
Mereka fokus menyimak arahan dan bimbingan dari para mahasiswa Unnes serta pengelola Gedung Papak.
“Anak-anak, ini adalah salah satu kamar yang digunakan oleh tentara Jepang untuk memperkosa gadis-gadis pribumi. Ranjang besinya masih ada dan dibiarkan begitu saja. Silahkan melihat-lihat, karena kalau sore sudah ditutup, ” terang Sokiran (62), penjaga Gedung Papak.
Seperti halnya murid-murid SMP/SMA lain yang terperangah menyaksikan setiap sudut Gedung Papak, Nurul Mahmudah pun demikian. Sesekali, siswi berkerudung murid kelas 3 SMAN 1 Geyer ini menggeleng-gelengkan kepalanya karena keheranan.
“Ya Allah, ternyata Gedung Papak menyimpan sejarah yang pilu. Padahal tak jauh dari rumahku, tapi aku baru tahu kisahnya. Yang aku dengar sih, tempat ini angker banyak penampakannya. Sehingga banyak yang menjauh. Terima kasih sangat bermanfaat kegiatan ini,” tutur Nurul.
Junior Manager Bisnis Perhutani KPH Gundih Joko Wahono mengatakan, pihaknya sudah berencana akan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyulap Gedung Papak menjadi obyek wisata.
Sementara ini, Perhutani KPH Gundih akan terus berupaya menjaga dan melestarikan keaslian bangunan Gedung Papak.
“Rencana dijadikan objek wisata ada, namun karena minimnya anggaran, kami akan kerjasamakan dengan pemerintah atau swasta. Fokus kita saat ini merawat dengan baik gedung papak. Banyak juga pengunjung berdatangan, kami hanya memfasilitasi. Kita ambil sisi positifnya dari sejarah gedung papak,” terangnya.
Sejarah Gedung Papak
Untuk diketahui, di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, berdiri sebuah bangunan tua yang disebut menyimpan sejarah kelam kebrutalan tentara Belanda dan tentara Jepang.
“Gedung Papak”, begitu warga setempat menyebut rumah kuno seluas 338,5 meter persegi tersebut.
Dinamai “papak” karena atapnya datar tak bergenting. Gedung Papak berdiri di atas lahan Perhutani KPH Gundih di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Grobogan Lokasinya di tengah perkampungan yang tak jauh dari KPH Gundih. Bangunan megah dengan arsitektur khas Belanda tempo dulu itu tak terawat kendati tercatat sebagai bangunan cagar budaya. Gumpalan debu kotor menempel di mana-mana hingga sarang laba-laba pun menggantung tak beraturan di banyak sudut ruangan.
Ada delapan ruangan kamar yang luas. Empat ruang di lantai bawah dan empat ruang di lantai atas. Setiap pintu masuk berukuran tiga meter tak selazimnya bangunan rumah pada umumnya.
Lantai beralaskan plester menyerupai semen. Ada juga kamar mandi dengan bak kecil serta dapur yang dilengkapi kompor tanam berupa tungku. Untuk menuju lantai kedua dari lantai pertama, ada tangga usang terbuat dari kayu dengan anak tangga selebar setengah meter.
Beberapa ranjang besi berkelambu tanpa kasur juga dibiarkan tergeletak di kamar. Tak ada hiasan yang menempel di dinding. Hanya keheningan yang memancar dari baliknya. Bagian dalam bangunan lawas yang berkonstruksi dinding serta kayu itu begitu kotor, sunyi, dan gelap.
Meski tak terurus, bangunan masih terlihat kokoh dan tak meninggalkan unsur keasliannya.
Gedung Papak menjadi salah satu bukti adanya praktik perbudakan seks yang dilakukan kolonialisme Jepang. Jejak ” jugun ianfu” pada masa pendudukan Jepang, istilah “jugun ianfu” sangat terkenal di telinga beberapa kalangan, terutama para gadis-gadis asli Indonesia waktu itu.
Jugun ianfu dijabarkan sebagai tawanan budak seks bagi para tentara Jepang. Istilah yang digunakan kolonialisme Jepang saat Perang Dunia II untuk menyebut para wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu pasukannya.
Siapa sangka, Gedung Papak dahulunya adalah rumah bordil yang dihuni para tawanan yaitu gadis-gadis belia yang merupakan warga asli Kabupaten Grobogan.
Para bunga desa yang malang itu dipaksa untuk memuaskan hasrat seksual tentara Jepang kala itu.
“Kebanyakan wanita yang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang malu dan menghilang. Ada seorang nenek saksi bisu yang menjadi korban budak seksual tentara Jepang. Setahun sekali ia datang diantar keluarganya ke Gedung Papak. Namanya Elisabeth Sri Sukanti,” tutur Sokiran, penjaga Gedung Papak.
Menurut Sokiran, nenek itu kerap menangis dan marah ketika datang ke Gedung Papak. Dengan diantar keluarganya, nenek yang memendam kepedihan itu kemudian menceritakan sejarah kelam gedung tersebut. “Di kamar di Gedung Papak, ia dan gadis lain yang diculik digilir paksa jadi tawanan budak seks tentara Jepang,” kata Sokiran.
Gedung Papak dibangun tahun 1919 sebagai markas besar tentara Belanda. Gedung tersebut juga difungsikan sebagai tempat penyiksaan pribumi yang dianggap membangkang aturan pasukan Belanda kala itu. Hingga akhirnya Gedung Papak dikuasai oleh tentara Jepang.
Pada masa itulah Gedung Papak dijadikan rumah bordir yang diisi jugun ianfu atau gadis-gadis pribumi yang dijadikan tawanan budak seks tentara jepang. Mereka digilir saat usia masih belia.
Perkembangannya, setelah tentara Jepang hengkang dari Indonesia pada 1953, Gedung Papak diambil alih Perum Perhutani sebagai rumah dinas Administratur KPH Gundih. Sejak itu, Gedung Papak belum pernah dipugar.
Saat itu juga ada kejadian tragis, satu keluarga Administratur KPH Gundih meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Setelah itu, Gedung Papak tidak difungsikan lagi dan hanya dilestarikan.
Konon, Gedung Papak memiliki penjara bawah tanah peninggalan tentara Belanda yang dijadikan sebagai tempat penyiksaan pribumi.
Sri Sukanti meninggal dunia
Elisabeth Sri Sukanti adalah saksi bisu kekejaman tentara Jepang di Gedung Papak. Sri Sukanti dipaksa menjadi jugun ianfu atau korban perbudakan seks tentara Jepang saat itu. Sri Sukanti adalah jugun ianfu termuda. Saat itu dia baru berusia 9 tahun dan dipaksa menjadi jugun ianfu sekitar tahun 1942-1945. Sri Sukanti disebut-sebut sebagai jugun ianfu termuda se-Asia Tenggara.
Sri Sukanti meninggal dunia di Kota Salatiga pada Rabu (20/12/2017) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Jenazah Sri Sukanti dimakamkan di Pemakaman Umum, Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Jateng.

 
Sumber : kompas.com
Tanggal : 16 Juli 2019